Konsumsi, Konsumsi, Konsumsi – Lalu Mati …!!!
“Jika konsumen adalah raja, maka industri adalah kasparov” (HOMICIDE)
Mari berandai-andai sejenak dengan lirik HOMICIDE di atas. Kasparov adalah yang terbaik dalam papan hitam-putih dengan bidak-bidak yang bertarung di dalamnya. Kalo disebut sebagai asa otak, mungkin otak kasparov salah satu yang terbaik di dunia. Industri sebagai otak, dia yang menggerakan konsumen-konsumen. Dalam sebuah semboyan klasik konsumen di sebut sebagai raja. Tangan-tangan pendorongnya, secara tidak langsung mendorong konsumen pada kotak-kotak yang diinginkan. Mungkin tangan-tangan kasparov adalah media massa.
“Jika konsumen adalah raja, maka industri adalah kasparov” (HOMICIDE)
Mari berandai-andai sejenak dengan lirik HOMICIDE di atas. Kasparov adalah yang terbaik dalam papan hitam-putih dengan bidak-bidak yang bertarung di dalamnya. Kalo disebut sebagai asa otak, mungkin otak kasparov salah satu yang terbaik di dunia. Industri sebagai otak, dia yang menggerakan konsumen-konsumen. Dalam sebuah semboyan klasik konsumen di sebut sebagai raja. Tangan-tangan pendorongnya, secara tidak langsung mendorong konsumen pada kotak-kotak yang diinginkan. Mungkin tangan-tangan kasparov adalah media massa.
Merk-merk terkenal itu menjelma menjadi barisan kata dalam doa yang meminta tuk di sebut trendi
Gaya hidup yang dimaksud tak lebih dari sebuah lari marathon menuju gengsi
Berlomba kesana, saling-sikut dengan yang lainnya, tak jarang licik demi ambisi
Semua dilakukan biar tak ada kawan atau lawan yang menyebut basi
Pemandu utama adalah suguhan sampah yang hadir dikotak ajaib bernama televisi
Guru yang lain adalah majalah-majalah trend, yang mungkin tak lebih dari katalog mode terkini
Karya Seni, terlalu tinggi kata itu jika dilekatkan pada benda-benda di depan kalian. Kami lebih nyaman menyebutnya prakarya. Niatnya tak lebih dari sekedar usaha bercerita. Semoga yang kami ceritakan tak jauh berbeda dengan keseharian di sekitar kita. Cerita itu harapannya, bukan dongeng karena jelas dia tidak bercerita tentang indahnya kehidupan sebagaimana terjadi di kebanyakan negeri dongeng.
Kritik, mungkin itu kata kalian. Tak juga pikir kami, sekali lagi hanya mencoba bercerita. Merekam apa yang sedang terjadi. Menggambarkannya dalam benda-benda di sekitar kalian. Semoga yang kami rekam nyata adanya. Bukan cerita fiksi yang bersembunyi di balik teks “Jika ada kesamaan tokoh dan tempat adalah sebuah ketidak sengajaan semata”.
Terlepas dari apa pun kalian menyebutnya kelak.Terlepas dari nilai-nilai yang akan diberikan. Terlepas dari pendapat standar “bagus yah “ atau “jelek banget sich. Kami hanya berusaha menjadi pencerita yang baik. Menjadi pendengar yang baik atau menjadi pelurus cerita yang baik. Semua kembali pada masing-masing. Tak kurang tak lebih rasanya jika harus terhatur terima kasih.
Muammar Fikrie – Reza Juliansyah
*sebuah narasi untuk prakarya “Konsumsi, Konsumsi, Konsumsi – Lalu Mati … !!!. Dipamerkan pada Gelar Karya KLIK-18 “Tunas Kamera”, 19 – 25 Februari 2010.

