17 Agustus 1945, hampir pukul 9.00 di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta. Rasa kebanggan bercampur haru, menyeliputi siapa saja yang hadir di sana. Suasana khidmat makin terasa ketika teks Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno. Sebarit kata dalam teks itu, telah menjadi penentu sebuah ‘kematian’ dan ‘kelahiran’. ‘Kematian’ bagi sang Penjajah, ‘Kelahiran’ Indonesia sebagai negara berdaulat.
Sejak proklamasi tercetus, bukan berarti selesai sudah episode penjajahan bagi negri ini. Penjajahan tak serta merta mati terus dikubur. Rekam sejarah telah memberi bukti usaha-usaha penjajah untuk hidup kembali. Agresi militer Belanda Ke II, Perundingan-perundingan, sampai pada operasi intelijen asing dll menjadi bukti usaha-usaha tersebut. Walau masih seusia bayi, kala itu Indonesia harus bisa berdiri- tegak dan berlawan. Berbagai usaha akhirnya memberikan kedaulatan politik bagi bangsa ini.
Kemerdekaan politik tak jua memberi kemerdekaan ekonomi bagi rakyat. Rakyat banyak, masih hidup dibawah garis kemiskinan. Dalam usia yang masih bayi hal ini masih bisa dipertanggung jawabkan. Penaikan taraf ekonomi tentunya akan membutuhkan waktu yang tak singkat.
Tetapi akan menjadi soal jika hingga usia ke 63. Ulang tahun perak telah terlewati oleh Indonesia, bahkan ulang tahun emas juga telah dilalui (usia ke 50). Akan tetapi rakyat jangankan emas atau perak, perunggu pun tak didapat - Rakyat tetap miskin.
Sebuah kabar di harian KOMPAS, menuliskan bahwa pada tahun 50an rakyat memiliki sebelas bahan pokok. Kala itu minuman seperti teh dan kopi masih menjadi kebutuhan pokok. Sekarang sudah menyusut menjadi Sembilan. Bahkan bagi sebagian orang tak lagi sembilan. Bukan tak mungkin jumlah sebagian orang itu, akan terus bertambah. Sehingga tersisa mungkin tinggal 6 atau 7 kebutuhan pokok. Sehingga sebutannya tak lagi sembako, melainkan nambakok atau tubakok.
Bahkan hari ke hari tak jua terlihat ada perbaikan ekonomi rakyat, malah sebaliknya. Kenaikan harga BBM, telah juga memukul ekonomi rakyat. Harga-harga semakin naik jauh, diatas kemampuan rakyat. Pendidikan dan kesehatan masih menjadi barang yang mahal, bagi rakyat. Busung lapar, wabah penyakit, makan nasi aking, anak yang putus sekolah, antrean BLT (tak jarang berakhir bentrok) menjadi fenomena di sekitar kita.
Continue reading ‘KEMERDEKAAN ADALAH NASI, KEMERDEKAAN ADALAH KESEJAHTERAAN BAGI RAKYAT’


Recent Comments