KEMERDEKAAN ADALAH NASI, KEMERDEKAAN ADALAH KESEJAHTERAAN BAGI RAKYAT

•August 20, 2008 • Leave a Comment

17 Agustus 1945, hampir pukul 9.00 di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta. Rasa kebanggan bercampur haru, menyeliputi siapa saja yang hadir di sana. Suasana khidmat makin terasa ketika teks Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno. Sebarit kata dalam teks itu, telah menjadi penentu sebuah ‘kematian’ dan ‘kelahiran’. ‘Kematian’ bagi sang Penjajah, ‘Kelahiran’ Indonesia sebagai negara berdaulat.

Sejak proklamasi tercetus, bukan berarti selesai sudah episode penjajahan bagi negri ini. Penjajahan tak serta merta mati terus dikubur. Rekam sejarah telah memberi bukti usaha-usaha penjajah untuk hidup kembali. Agresi militer Belanda Ke II, Perundingan-perundingan, sampai pada operasi intelijen asing dll menjadi bukti usaha-usaha tersebut. Walau masih seusia bayi, kala itu Indonesia harus bisa berdiri- tegak dan berlawan. Berbagai usaha akhirnya memberikan kedaulatan politik bagi bangsa ini.

Kemerdekaan politik tak jua memberi kemerdekaan ekonomi bagi rakyat. Rakyat banyak, masih hidup dibawah garis kemiskinan. Dalam usia yang masih bayi hal ini masih bisa dipertanggung jawabkan. Penaikan taraf ekonomi tentunya akan membutuhkan waktu yang tak singkat.

Tetapi akan menjadi soal jika hingga usia ke 63. Ulang tahun perak telah terlewati oleh Indonesia, bahkan ulang tahun emas juga telah dilalui (usia ke 50). Akan tetapi rakyat jangankan emas atau perak, perunggu pun tak didapat - Rakyat tetap miskin.

Sebuah kabar di harian KOMPAS, menuliskan bahwa pada tahun 50an rakyat memiliki sebelas bahan pokok. Kala itu minuman seperti teh dan kopi masih menjadi kebutuhan pokok. Sekarang sudah menyusut menjadi Sembilan. Bahkan bagi sebagian orang tak lagi sembilan. Bukan tak mungkin jumlah sebagian orang itu, akan terus bertambah. Sehingga tersisa mungkin tinggal 6 atau 7 kebutuhan pokok. Sehingga sebutannya tak lagi sembako, melainkan nambakok atau tubakok.

Bahkan hari ke hari tak jua terlihat ada perbaikan ekonomi rakyat, malah sebaliknya. Kenaikan harga BBM, telah juga memukul ekonomi rakyat. Harga-harga semakin naik jauh, diatas kemampuan rakyat. Pendidikan dan kesehatan masih menjadi barang yang mahal, bagi rakyat. Busung lapar, wabah penyakit, makan nasi aking, anak yang putus sekolah, antrean BLT (tak jarang berakhir bentrok) menjadi fenomena di sekitar kita.

Continue reading ‘KEMERDEKAAN ADALAH NASI, KEMERDEKAAN ADALAH KESEJAHTERAAN BAGI RAKYAT’

Ujian Nasional dan Kejar Setoran

•July 15, 2008 • Leave a Comment
Tanggal : 16 May 2008
Sumber : Kompas

Prakarsa Rakyat,

Oleh MUAMMAR FIKRIE

Ujian nasional tahun ini harus dilewati dengan berbagai kecurangan, mulai dari kebocoran soal, penyebaran kunci jawaban, perbaikan hasil, dan lain-lain. Standardisasi kelulusan yang tinggi dinilai menjadi penyebab utama berbagai kasus itu.

Iklim kompetisi juga telah melahirkan nuansa prestisius bagi sekolah, rayon, kota, dan provinsi. Bagi para pemimpin di berbagai tingkatan tersebut, jumlah kelulusan tentu menjadi sebuah prestasi tersendiri. Semakin besar presentasi kelulusan, semakin tinggi prestise dan pamor mereka. Janganlah heran jika melihat sejumlah daerah mematok target kelulusan yang tinggi.

Walhasil prinsip “kejar setoran” banyak terjadi pada pelaksanaannya. Dengan prinsip itu, usaha-usaha yang sedikit nakal atau melanggar bisa menjadi lumrah tentunya. Jangan heran jika oknum guru banyak terlibat dalam berbagai kasus kecurangan pada UN. Melihat prinsip di atas, keterlibatan guru dalam kasus-kasus kecurangan pada UN tak bisa sepenuhnya disalahkan. Tingginya standardisasi, kompetensi, prestise, dan targetan tinggi adalah faktor penyebab lain.

Continue reading ‘Ujian Nasional dan Kejar Setoran’

Harga Menaik, Popularitas pun Menukik

•July 5, 2008 • 1 Comment

Survey Indo Barometer yang dilakukan paska kenaikan harga BBM, menunjukan penurunan popularitas SBY. Menurut hasil survey ini, 50,6 % responden tidak menginginkan SBY kembali menjadi presiden pada periode 2009-1014 (Kompas, 30 Juni 2008). Bahkan jika pemilu diadakan sekarang, SBY tidak akan terpilih sebagai presiden. Nama SBY menempati urutan kedua setelah Megawati Soekarnoputri (dalam pertanyaan terbuka dan tertutup), tentang siapa yang bakal dipilih sebagai presiden jika pemilu dilakukan hari ini.

Seperti sudah diramalkan sebelumnya (lihat tulisan : Krisis Dunia, Curhatan Rakyat dan Popularitas Pemerintahan, di blog ini), kebijakan menaikan harga BBM dapat berakibat buruk pada popularitas pemerintahan (baca juga : SBY secara pribadi). Kenaikan harga BBM, tentunya ‘bersambung rasa’ dengan kenaikan harga-harga yang lainnya. Mulai dari sembako, transportasi sampai pada kebutuhan-kebutuhan pelengkap terus naik paska kenaikan harga BBM. Bagi rakyat hal ini tentu semakin memperburuk kondisi ekonomi. Ketidak mampuan pemerintah memperbaiki kondisi ekonomi mereka, tentu akan berdampak pada pilihan-pilihan politik mereka.

Kenaikan harga BBM menjadi santapan empuk bagi lawan-lawan politik SBY. Aksi-aksi massa yang banyak dilakukan oleh mahasiswa, mampu menaikan kampanye perlawanan terhadap kebijakan tidak populis ini. Belakangan pemerintah memang cukup efektif dalam melakukan ‘kampanye hitam’, terhadap aksi-aksi massa yang sering berakhir dengan kekerasan. Akan tetapi hal itu tidak akan banyak menolong, karena rakyat mulai merasakan efek dari kenaikan harga BBM.

Continue reading ‘Harga Menaik, Popularitas pun Menukik’

Sepak Bola dan Politik

•July 5, 2008 • 1 Comment

Raja Juan Carlos dan Ratu Sopia, meloncat kegirangan begitu Fernando Torres mencetak gol ke gawang Jerman, di partai Final Euro 2008. Di sisi lain Angela Merkel, kanselir Jerman tidak bisa menyembunyikan kekecewaanya. Sepak bola memang olahraga rakyat jelata, membuat para pemimpin juga mau tak mau harus belajar banyak tentang hal ini.

Merkel adalah contoh pemimpin yang mulai memahami sepak bola setelah menjabat sebagai kanselir Jerman. Mendekati piala dunia, Merkel banyak dikritik karena jarang memberikan support kepada kesebelasan timnas Jerman ketika bertanding. Diapun merubah perilakunya, dengan mengusahakan untuk hadir dalam setiap pertandingan Jerman selama piala dunia berlangsung di negara tersebut.

Selanjutnya bak terjangkit virus bola, dia juga berusaha untuk selalu hadir ketika kesebelasan Jerman bertanding termasuk pada Euro kemarin. Bahkan dia sempat menasehati beberapa pemainnya. Salah satunya adalah Bastian Schewesteinger, ketika mendapatkan kartu merah melawan Kroasia. “Ia mengatakan kepada saya tidak seharusnya melakukan hal bodoh sperti itu lagi. Ketika Kanselir mengatakan anda harus melakukan sesuatu, anda wajib melakukan itu” kata pemain asal klub Bayern Munchen tersebut (Koran Tempo, 27 Juni 2008).

Lain lagi dengan Raja Juan Carlos, yang sangat berharap Spanyol menjuarai turnamen setelah tim ini mengalahkan Italia di perempat final. “Kami telah mengalahkan kutukan itu” katanya, selama ini Spanyol memang dikenal susah melewati fase gugur pada sebuah turnamen Sepakbola. Akhirnya timnya mampu keluar sebagai pemenang pada kompetisi tersebut.

Continue reading ‘Sepak Bola dan Politik’

Tersisa dari Euro 2008

•July 5, 2008 • Leave a Comment

Sebulan penuh, kompetisi itu akhirnya berakhir sudah. Beragam cerita menjadi oleh-oleh bagi para kontestannya. Ada kisah sedih, tragis, bahagia, bangga dan lainnya hadir di perhelatan sepak bola terbesar setelah Piala Dunia ini. Berikut beberapa catatan kecil dari saya, tentang Euro 2008 di Austria dan Swis.

Tim terbaik : Spanyol

Tim Kejutan : Turki

Tim paling mengecewakan : Prancis

Pemain Terbaik : Xavi Hernandez

Partai terbaik : Turki Vs Jerman

Continue reading ‘Tersisa dari Euro 2008′