Konsumsi, Konsumsi, Konsumsi – Lalu Mati …!!!

•February 24, 2010 • Leave a Comment

“Jika konsumen adalah raja, maka industri adalah kasparov” (HOMICIDE)

Mari berandai-andai sejenak dengan lirik HOMICIDE di atas. Kasparov adalah yang terbaik dalam papan hitam-putih dengan bidak-bidak yang bertarung di dalamnya.  Kalo disebut sebagai asa otak, mungkin otak kasparov salah satu yang terbaik di dunia. Industri sebagai otak, dia yang menggerakan konsumen-konsumen. Dalam sebuah semboyan klasik konsumen di sebut sebagai raja. Tangan-tangan pendorongnya, secara tidak langsung mendorong konsumen pada kotak-kotak yang diinginkan. Mungkin tangan-tangan kasparov adalah media massa.

“Jika konsumen adalah raja, maka industri adalah kasparov” (HOMICIDE)

Mari berandai-andai sejenak dengan lirik HOMICIDE di atas. Kasparov adalah yang terbaik dalam papan hitam-putih dengan bidak-bidak yang bertarung di dalamnya.  Kalo disebut sebagai asa otak, mungkin otak kasparov salah satu yang terbaik di dunia. Industri sebagai otak, dia yang menggerakan konsumen-konsumen. Dalam sebuah semboyan klasik konsumen di sebut sebagai raja. Tangan-tangan pendorongnya, secara tidak langsung mendorong konsumen pada kotak-kotak yang diinginkan. Mungkin tangan-tangan kasparov adalah media massa.

Continue reading ‘Konsumsi, Konsumsi, Konsumsi – Lalu Mati …!!!’

Musik Indie : Sejarah Singkat dan Tantangannya

•December 13, 2008 • 7 Comments

Indie berasal dari kata independent, yang artinya merdeka. Beberapa tahun belakangan pembicaraan soal musik Indie, menjadi topik hangat di kalangan anak muda. Saat produk musik mainstream Indonesia hanya bisa menghasilkan band pop menye-menye, band-band indie sukses menawarkan alternatif.

Industri musik indie muncul di Amerika, sejak tahun 1920an. Di masa itu ada beberapa label-label rekaman kecil, mencoba menandingi label-label besar. Sejarah musik selalu diwarnai oleh terobosan-terobosan baru, pada setiap jamannya. Terobosan-terobosan ini senantiasa berporos pada prinsip menghadirkan tawaran alternative/tandingan (musik dan budaya baru), terhadap budaya mainstream di setiap masanya.

Awal tahun 60an, Elvis Preasley berhasil menggemparkan dunia musik. Elvis sukses merubah paradigma bermusik di Amerika dengan musik rock ‘ rollnya (adaptasi musik blues dan jazz kulit hitam). Pada jaman itu juga, lorong-lorong bawah tanah stasiun kereta (subway) disulap menjadi panggung-panggung pertunjukan oleh para seniman-seniman di Paris, Perancis. (Ady Gembel, Underground Kita Berbeda, Apokalip Web Zine). Para seniman itu mencoba mendekatkan diri langsung dengan massa, menentang pola berkesenian elitis ala seniman mainstream. Bahkan puisi, teater, musik dan produk kesenian lainnya pada massa itu, sarat dengan nuansa kritis. Karena tempat pertunjukannya yang berada di bawah tanah, lahirlah istilah underground.

Perubahan di atas, harus dilihat selaras dengan fenomena sosial yang sedang terjadi. Tahun 50 sampai 60an, adalah masa pemulihan paska perang dunia II dan masa awal perang dingin. Krisis ekonomi menghinggapi hampir semua negara di dunia. Pengiritan sektor industri, menjadikan kelas-kelas pekerja makin jauh dari taraf kesejahteraan. Mendapatkan hiburan seperti opera dan pertunjukan musik klasik, adalah sebuah hal yang mustahil bagi kelas pekerja. Mau tak mau, mereka harus menciptakan alternatif-alternatif hiburannya sendiri. Fenomena underground di Paris, musik alternatif di Amerika (blues, jazz dan rock ‘n roll) serta skin head di Inggris, harus dilihat sebagai bentuk-bentuk alternatif dalam bermusik di jaman itu.

Continue reading ‘Musik Indie : Sejarah Singkat dan Tantangannya’

SUMPAH PEMUDA, DI NEGRI IRONI

•October 30, 2008 • Leave a Comment

Kolonialisme, telah menghadirkan perasaan senasib-seperjuangan. Jejeren pulau nusantara, mepertontonkan nasib yang sama. Jejeran pulau itu memperlihatkan kondisi rakyat yang tertindas, di bawah alam kolonialisme. Perjuangan melawan kolonialisme juga terjadi di mana-mana. Sadar bahwa nasib yang sama (malang, tertindas, melarat dll), sadar bahwa sedang menghadapi musuh yang sama (Kolonialisme), menjadi tolak awal persatuan gerakan perlawanan. Sumpah Pemuda menjadi salah satu picu utama dalam penyatuan gerakan perlawanan tersebut.

28 Oktober 1928, menjadi salah satu peristiwa penting dalam catatan sejarah Indonesia. 100 tahun silam ratusan pemuda yang tergerak atas perasaan senasib-seperjuangan, mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Pada masa itu pengakuan bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu (INDONESIA), bukan hanya menjadi susunan huruf sakral. Tapi sumpah itu juga dipraktekan dalam perjuangan menuju pembebasan nasional.

Sekarang di tahun 2008, tepat seratus tahun Sumpah Pemuda dideklarasikan. Perayaan banyak dilakukan dan iklan-iklan yang meminjam jargon-jargon perjuangan pemuda tahun ’28 menghiasi televisi. Dalam peringatan se-abad Sumpah Pemuda, tak layaklah kita merayakan dengan berlebihan tanpa meresapi semangat para pencetusnya. Yaitu semangat persatuan gerak untuk perjuangan pembebasan nasional. Ini yang seharusnya kita ambil sebagai pelajaran berharga, dari Sumpah Pemuda. Selanjutnya mari kita melihat kondisi bangsa dan tanah air pada hari ini.

Kemerdekaan tahun 1945, adalah buah dari perjuangan panjang pembebasan nasional. Melalui perjuangan panjang para pendahulu kita, akhirnya mampu mengusir penjajah dari bumi nusantara. Akan tetapi pembebasan nasional, itu yang sampai sekarang belum diikuti dengan pembebasan ekonomi. Bahkan sampai detik ini, kita masih melihat bagaimana penjajahan dilakukan.

Undang-undang Penanaman Modal Asing, pada tahun 1966 adalah awal mula masuknya wajah baru penjajahan asing, dengan baju korporasi global. Peluru tak lagi menjadi pilihan alat bertempur. Hutang-lah senjata baru mereka, dengan CGI, World Bank, IMF dll menjadi serdadu barunya. Hasilnya kita harus menerima konsekwensi-konsekwensinya negara ini didikte oleh pihak asing. Sehingga kita harus masuk ke dalam jurang ekonomi pasar bebas (sesuai tuntutan asing). Maka jangan heran jika melihat aset nasional dijual, subsidi ditarik dan pasar dibuka seluas mungkin. Hal itu adalah bagian dari konsekwensi dari ekonomi pasar bebas, yang kita sepakati seiring penerimaan hutang dan masuknya modal asing.

Continue reading ‘SUMPAH PEMUDA, DI NEGRI IRONI’

Bersatu Menuju 2009

•October 18, 2008 • Leave a Comment

Majalah TEMPO (19 Oktober 2008), memuat foto Soetrisno Bachir (PAN), Bursah Zanubi (PBR) dan Wiranto (Partai HANURA) dalam sebuah acara buka puasa bersama. Artikel dibawahnya memuat wacana koalisi antar partai politik, yang dipimpin oleh ke tiga tokoh tersebut. Dua dari ketiga tokoh tersebut, yaitu Wiranto dan Soetrisno Bachir sering disebut-sebut berniat maju dalam pilpres 2009. Tak ada kesepakatan koalisi di dalamnya akan tetapi, signal-signal itu sudah mengudara.

Jumat (17 Oktober 2008) Rapimnas Partai Golkar resmi digelar. Liputan 6 SCTV di hari yang sama menginformasikan, tak ada agenda partai pemenang pemilu 2004 ini untuk mebincangkan soal Capres dari Golkar dalam Rapimnas tersebut. Padahal ada faksi dari partai beringin yang ingin partai ini sesegera mungkin memunculkan capres, jika tak ingin kalah start dengan partai dan calon yang lain. Di lain sisi Jusuf Kalla (ketua umum partai Golkar) menyebut dirinya siap untuk disandingkan kembali bersama SBY, sebagai cawapres. Menarik, karena walaupun Golkar tak memiliki agenda pembahasan capres, Jusuf Kalla malah membuka wacana dan memungkinkan terbukanya ruang koalisi (antara Golkar dan Demokrat).

Memang ada beberapa partai yang menginginkan berkoalisi dengan Golkar. Dalam Kutipan wawancara dengan Liputan 6 SCTV Annas Urbaningrum (ketua Partai Demokrat), menyebut kemungkinan kembali berduetnya SBY-JK. Begitu pula dengan Taufik Kiemas (Ketua Dewan Pertimbangan Pusat DPP PDIP), yang menyebut kemungkinan koalisi dengan Partai Golkar dan PKS (KOMPAS, Sabtu 18 Oktober 2008).

Di parlemen saat ini, ramai tariik-ulur soal RUU Pemilihan Presiden. Fraksi besar seperti Fraksi Partai Golkar (F-PG) dan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (F-PDIP), mempertahankan angka 25 % dan 26 % kursi DPR untuk bisa mengajukan calon presiden dan wapres. Sementara itu partai-partai menengah yang dimotori oleh fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) dan Fraksi Partai Demokrat (F-PD), berkeras hati pada angka 15 % kursi DPR atau 20 % suara sah pemilu anggota DPR. Jika masing-masing masih berkeras hati, agaknya kelompok fraksi menengah berada di atas angin, karena jumlah mereka lebih besar jika diadakan votting. Kalaupun akan tercapai kesepakatan kemungkinan angka yang disepakati 20 % suara atau kursi di DPR.

Momentum-momentum politik di atas, menegaskan tentang kemungkinan-kemungkinan koalisi antar partai dalam pemilu 2009 mendatang. Jika bersandar pada kemungkinan angka yang disepakati di DPR adalah 20 % kursi DPR atau suara pada pemilu legislatif untuk mengajukan calon presiden dan wakil presiden, agaknya koalisi mutlak untuk dilakukan.

Continue reading ‘Bersatu Menuju 2009’

Ramadhan Bulan Penuh Rejeki

•September 16, 2008 • 1 Comment

Bulan tampak penuh di langit, ketika tulisan ini mulai dikerjakan. Pertanda bahwa tak terasa pertengahan bulan Ramadhan baru saja lewat. Entah berapa hari lagi keramaian di masjid-masjid, akan berganti keramaian di pusat-pusat perbelanjaan. Ramadhan memang bulan penuh rejeki, utamanya bagi mereka para pelaku bisnis.

Tengoklah para operator selular. Mereka berlomba memunculkan program-program spesial ramadhan. Ada yang menyediakan sebuah nomor sms khusus, posko-posko mudik sampai jualan handphone-Islami juga dilakoni. Bahkan iklan promosi signal kuat, dikaitkan dengan jalur mudik. Seakan mudik tanpa sim card tertentu takan lengkap. Beramai-ramai pula menyediakan layanan nada sambung lagu-lagu rohani.

Industri musik pun ketiban untung tak terkira. Beberapa artis (solo dan grup band) segera merilis album atau hits-hits rohani. Bagi mereka yang merilis album rohani, tawaran manggung tentunya datang silih berganti di bulan ini. Belum lagi jika ditambah dengan penjualan nada sambung, rejeki pun terus bersambung.

Tayangan komedi televisi diwaktu sahur dan buka, juga mendatangkan rejeki tersendiri bagi para selebritis kita. Komando Production milik Eko Patrio dikontrak dengan angka 75 juta per satu episodenya (Kompas, Minggu 14 September 2008). Para produsen sinetron pun bergerak cepat di bulan ini, hampir setiap televisi menghadirkan berbagai judul sinetron religi. Judul-judul seperti Aqso dan Madinah, Assalamu Alaikum Cinta dll menjadi penghias layar kaca. Belum lagi dihitung dengan peningkatan jumlah tayangan ceramah. Padahal tayangan islami hanya memiliki porsi waktu yang kecil di stasiun-stasiun televisi kita, pada bulan-bulan lainnya.

Semua yang berbau agama laku keras pada momentum ini. Jumlah penonton yang besar sama dengan ratting yang tinggi, ratting tinggi berarti kesempatan untuk menjual iklan lebih besar. Metro TV yang lebih banyak menyajikan acara-acara ceramah dan info seputar ramadhan saja, jumlah iklannya meningkat sampai enam belas persen (Kompas, Minggu 14 September 2008).

Belum lagi sinetron dan rangkaian acara komedi lainnya. Biasanya untuk acara seperti ini dibagi 50-50 durasi waktunya. Setengah untuk isi acaranya dan setengahnya lagi untuk iklan. Bayangkan jika acara tersebut berdurasi 120 menit pada waktu sahur. Berarti 60 menit untuk acaranya dan 60 menit lainnya buat iklan. Padahal waktu sahur adalah waktu mati pada bulan-bulan normal, tapi sekarang bisa menjadi jam prime bagi stasiun televisi. Ramadhan penuh rejeki, uang terus mengalir.

Continue reading ‘Ramadhan Bulan Penuh Rejeki’

Seks Komedi : MAKIN DILARANG MAKIN MERANGSANG

•August 27, 2008 • 4 Comments
Enjoy The Show. Kembali ka Masing-masing Individu

Enjoy The Show. Kembali ka Masing-masing Individu

“Mau Lagi, dicekal loch. Katanya terlalu vulgar” informasi ini tersebar, muncul di sela-sela percakapan harian dua sahabat. Sedikit banyak ungkapan di atas menyiratkan penyesalan, mungkin sesal karena tak sempat menonton. Ada banyak lagi ungkapan para penggila film dalam negri. Semisal, “Udah lihat Jakarta Undercover ? Luna Maya-nya Hot. Jadi penari striptise”. Atau “Gila, Dewi Persik di Tali Pocong Perawan. Berani banget..!!!”. Mungkin juga “Tahu gak nama artis yang maen di Kawin Kontrak, itu loch yang sexy, berani buka-bukaan”.

Itulah komentar-komentar seputar dunia perfilman Indonesia. Sedikit banyak komentar-komentar itu memperlihatkan bagaimana kecenderungan konsumen film di Indonesia. Ada banyak informasi yang bisa diceritakan dari sebuah film, tapi tampilan berani nan vulgar bahkan seks sekalipun menjadi bumbu yang menarik untuk ditonton sekaligus diceritakan.

Seks memang akhir-akhir ini, telah menjadi bumbu penyedap bagi perfilman Indonesia. Berbagai genre film harus menyiapkan beberapa scene yang vulgar. Seakan jika hal itu tak dilakukan, serasa kurang lengkaplah film tersebut. Bahkan belakangan hadir bergenre film seks komedi. Film yang memadukan hal-hal berbau seks, petualangan cinta, kevulgaran serta komedi.

Sex dalam Dunia Film Indonesia : Semua Berawal dari Tertawa

Booming film sex komedi sebenarnya bukan yang pertama di Indonesia. Tercatat pada pertengahan era 70an, kita mengenal film ‘Inem Pelayan Seksi’ garapan sutradara Nya Abbas. Film ini cukup berhasil, bahkan dibuat dalam tiga sekuel. Film ini tak seperti film-film seks komedi di massa kini. Film ini tampil elegan bercerita soal realitas kehidupan sehari-hari dua kelas berbeda (kelas atas dan kelas bawah), tanpa harus mengumbar seks secara vulgar.

Selanjutnya kita mengenal film-film Warkop DKI, yang selalu menampilkan cewek-cewek sexy hampir dalam setiap judulnya. Begitu juga duet Kadir-Doyok, di masa 80an akhir – 90an awal. Pada masa itu tampilan sexy, sekedar menjadi penghias dalam cerita-cerita komedi. Walau tak spesifik menjadikan sex sebagai objek dalam keseluruhan film komedi, sentilan canda dengan nuansa sex terkadang juga muncul dalam berbagai film tadi. “Tujuan awalnya buat lucu-lucuan. Bumbunya bisa apa saja, termasuk sex” jelas Elida, salah seorang pemerhati film di Jogjakarta.

Masuk di masa 90-an film Indonesia sempat mengalami kelesuan. Ketika itu, tercatat sedikit sekali produksi film dari tahun-ke tahun. Film yang banyak beredar lagi-lagi hanya film-film yang bernuansa sex. Bioskop-bioskop pun dihiasi oleh poster-poster film syur dengan judul menggoda, seperti ‘Ranjang Pengantin’, ‘Cewek Metropolitan’, ‘Gairah Malam’, dll. Film model inilah yang menjadi trend di masa itu, sampai konsumen pun pada akhirnya mulai jenuh dan meninggalkan film Indonesia. Inilah masa yang boleh dikata sebagai masa tersuram dalam catatan sejarah perfilman Indonesia.

Continue reading ‘Seks Komedi : MAKIN DILARANG MAKIN MERANGSANG’

KEMERDEKAAN ADALAH NASI, KEMERDEKAAN ADALAH KESEJAHTERAAN BAGI RAKYAT

•August 20, 2008 • Leave a Comment

17 Agustus 1945, hampir pukul 9.00 di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta. Rasa kebanggan bercampur haru, menyeliputi siapa saja yang hadir di sana. Suasana khidmat makin terasa ketika teks Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno. Sebarit kata dalam teks itu, telah menjadi penentu sebuah ‘kematian’ dan ‘kelahiran’. ‘Kematian’ bagi sang Penjajah, ‘Kelahiran’ Indonesia sebagai negara berdaulat.

Sejak proklamasi tercetus, bukan berarti selesai sudah episode penjajahan bagi negri ini. Penjajahan tak serta merta mati terus dikubur. Rekam sejarah telah memberi bukti usaha-usaha penjajah untuk hidup kembali. Agresi militer Belanda Ke II, Perundingan-perundingan, sampai pada operasi intelijen asing dll menjadi bukti usaha-usaha tersebut. Walau masih seusia bayi, kala itu Indonesia harus bisa berdiri- tegak dan berlawan. Berbagai usaha akhirnya memberikan kedaulatan politik bagi bangsa ini.

Kemerdekaan politik tak jua memberi kemerdekaan ekonomi bagi rakyat. Rakyat banyak, masih hidup dibawah garis kemiskinan. Dalam usia yang masih bayi hal ini masih bisa dipertanggung jawabkan. Penaikan taraf ekonomi tentunya akan membutuhkan waktu yang tak singkat.

Tetapi akan menjadi soal jika hingga usia ke 63. Ulang tahun perak telah terlewati oleh Indonesia, bahkan ulang tahun emas juga telah dilalui (usia ke 50). Akan tetapi rakyat jangankan emas atau perak, perunggu pun tak didapat – Rakyat tetap miskin.

Sebuah kabar di harian KOMPAS, menuliskan bahwa pada tahun 50an rakyat memiliki sebelas bahan pokok. Kala itu minuman seperti teh dan kopi masih menjadi kebutuhan pokok. Sekarang sudah menyusut menjadi Sembilan. Bahkan bagi sebagian orang tak lagi sembilan. Bukan tak mungkin jumlah sebagian orang itu, akan terus bertambah. Sehingga tersisa mungkin tinggal 6 atau 7 kebutuhan pokok. Sehingga sebutannya tak lagi sembako, melainkan nambakok atau tubakok.

Bahkan hari ke hari tak jua terlihat ada perbaikan ekonomi rakyat, malah sebaliknya. Kenaikan harga BBM, telah juga memukul ekonomi rakyat. Harga-harga semakin naik jauh, diatas kemampuan rakyat. Pendidikan dan kesehatan masih menjadi barang yang mahal, bagi rakyat. Busung lapar, wabah penyakit, makan nasi aking, anak yang putus sekolah, antrean BLT (tak jarang berakhir bentrok) menjadi fenomena di sekitar kita.

Continue reading ‘KEMERDEKAAN ADALAH NASI, KEMERDEKAAN ADALAH KESEJAHTERAAN BAGI RAKYAT’