Maaf Saya Mencintai Pocong Anda

Beberapa saat yang lalu saya bertemu dengan seorang pecinta film, di sebuah persewaan kepingan CD film. Ketika bercerita tentang perfilman di Indonesia, orang yang bukanlah seorang kritikus terkenal ataupun pekerja seni rekam terkenal ini menilai banyak kelemahan di Industri film dalam negri.

Satu hal yang menarik, ketika lontaran penuh canda kami mengerucut pada satu judul parody film Indonesia “Maaf Saya Mencintai Pocong Anda”. Sebuah potret real dunia perfilman yang memang banyak menghadirkan film dengan tema-tema seperti percintaan, horor dan komedi seksual.

Dia bercerita tentang perfilman yang tak kunjung mampu memotret kehidupan masyarakat. Dari sekian banyak film Indonesia yang muncul pada massa ini, hanya beberapa film yang jeli melihat realitas masyarakat kita. Saya pun bersepakat dengan judul-judul yang disebutnya (naga bonar, berbagi suami dll). Setidaknya ini menjadi sebuah harapan tersendiri. Ditengah himpitan film-film yang jauh dari realitas masyarakatnya, masih ada (kalopun belum banyak) film yang mau memotret hal tersebut.

Gampang saja untuk dua film di atas terlihat bagaimana potret bangsa ini. Berbagi Suami adalah fenomena yang sering kita perhatikan. Seorang pejabat Negara, ustadz, sampai rakyat kecil banyak yang melakukan poligami (isu sentral dalam film ini). Tanpa muluk-muluk film ini tergolong sukses memotret dunia masyarakat Indonesia.

Naga Bonar kaya akan isu sosial masyarakat. Bangsa ini sering lupa pada sejarahnya, itu yang sering dikumandangkan oleh intelektual-intelektual kita. Sebagai bangsa yang belum tuntas proses pencarian karakternya, sejarah merupakan sesuatu yang lazim untuk terlupa. Dengan humor atau pengambilan gambar yang cerdas Naga bonar sukses memotret realitas tersebut.

Contoh kongkrit adalah penghargaan terhadap monument-monumen sejarah saja sudah mulai luput di tingkatan masyarakat. Patung-patung yang berguna untuk mengingat jejak langkah para pahlawan tak lebih menjadi penghias jalan. Ini hanya satu contoh isu sosial masyarakat yang berhasil di potret naga bonar.

Tanpa menafikan beberapa judul film lainnya, memang harus kita akui beberapa contoh film gagal memotret kehidupan masyarakat. Film dengan genre drama remaja adalah contoh kongkrit betapa jauhnya perfilman kita dari realitas. Sebuah cerita tentang cinta saja, bahkan harus meminjam tempat-tempat romantic di negri luar. Memang sudah tak ada lagi cinta di negri ini mungkin, benci bertebaran di mana-mana. Kenapa tak kebencian itu yang diangkat, dengan perspektif konstruktif untuk menghilangkannya.

Belum lagi cerita percintaan remaja yan g terkesan klasik, lucunya remaja kita merasa itu potret mereka. Seakan dunia sesempit pergaulan dua anak manusia ditambah konflik intrik, perselingkuhan dan romantika. Mungkin bagi sebagian anak ibu kota itu adalah potret mereka. Tapi menurut hemat saya, tidak demikian dengan kehidupan masa remaja mayoritas dari remaja kita. Masa remaja yang terpaksa dihabiskan dijalanan, dipabrik-pabrik sebagai buruh, atau sebagai penganggur. Film-film seperti Eifel I’m In Love, Buruan Cium Gue, Virgin, Heart, dan beberapa judul film (yang terlalu banyak jika ingin disebutkan) bisa masuk dalam ktegori ini.

Belum lagi film-film bergenre horror, yang selalu dengan konflik sederhana dan ketakutan yang sama di setiap filmnya. Film-film horor terlihat jelas hanya mementingkan sisi komersilnya, setannya di banyak-banyakin, penggalian kerakter tak perlu repot yang penting duit mengalir. Seakan para pemodal industri film sadar betul bahwa masyarakat kita akrab dengan mistik. Belum lagi ditambah dengan sedikit unsur “panas”, yang diharapkan bisa memikat penonton.

Mistik yang dipadukan dengan modernitas, seakan berharap mistik yang sejajar dengan karya horror negeri-negeri seberang. Tapi ada kegagalan dalam memotret kehidupan masyarakatnya. Padahal kita pahami isu-isu mistik di Indonesia adalah isu-isu yang (maaf) terkesan “murahan”.

Seharusnya kita lebih jujur akan hal itu, tanpa harus mengcopy gaya hidup kebarat-baratan dalam hampir semua film horror kita. Lebih jujur terlihat film-film horror di zaman Suzana, yang memotret budaya mistik kita yang ada di masyarakat. Beberapa judul seperti film Horor, Tali Pocong Perawan, Pocong, Bangku Kosong dan beberapa judul lainnya bisa diklasifikasikan sebagai film yang gagal memotret kehidupan riil masyarakat kita. Mungkin karena unsur kebarat-baratannya yang sangat tinggi.

Kawan yang diceritakan di awal tulisan ini mengatakan ada baikanya film yang muncul mampu memperlihatkan seperti apa bangsa ini sebenarnya. Belum lama ini saya juga sempat mengikuti bincang-bincang singkat beberapa aktivis mahasiswa. Mereka menyimpulkan bangsa ini belum selesai dalam pencarian jati dirinya sebagai bangsa, atau belum mendapatkan karakternya sebagai sebuah bangsa yang mandiri.

Teringat dua hal di atas, mungkin sebaiknya perfilman kita lebih mampu memotret kehidupan masyarakat kita. Hal ini bisa membantu masyarakat dalam melihat cerminan dirinya. Sehingga bangsa ini bisa terbantu dalam pencarian karakternya sebagai bangsa.

~ by batumerah79 on April 27, 2008.

4 Responses to “Maaf Saya Mencintai Pocong Anda”

  1. Setuju, Baiknya sineas indonesia lebih fokus menggarap film yang tidak hanya bernilai educated, tapi juga yang Reallife.
    Sayangnya sineas indonesia begitu ortodok bergaya dan meniru film2 Thailand yang berbau mistik itu. Mending ada relitanya…lah ini piye toh malah bikin penonton jadi bloon. Komisi Penyiaran Indonesia juga belum bertindak 100% menangani peristiwa ini. Mari Maknai kemerdekaan di 63 tahun ini dengan tontonan yang lebih mendidik dan tidak menyesatkan.
    Untung tontonan saya bukan Pocong.

  2. Aku lebih suka film tentang realita kehidupan yang diangkat. Kayak Laskar Pelangi. Itu baru film berkualitas.

  3. sepakat dengan bung hamdan..
    sebaiknya kita biasakan melihat maupun merekam gambaran nyata kehidupan melalui layar lebar..thanks..

  4. abang tulisannya bagus,, menarik dan berbobot.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s