SLANK DI ANCAM – AMIN KETANGKAP – RAKYAT BUTUH BUKTI NYATA

Sebuah lirik lagu grup music SLANK menjadi pembicaraan marak akhir-akhir ini. Lirik lagu yang kurang lebih menceritakan tentang ketidakpercayaan di tingkatan rakyat kecil terhadap mafia di senayan. Banyak mafia di negri ini yang masih melegalkan praktik-praktik KKN dalam menjalankan tugas-tugas sebagai pelayan ataupun perwakilan masyarakat.

Lagu ini menjadi heboh sejak Grup Musik Slank melakukan pertunjukan kecil di depan gedung Pemberantasan Korupsi akhir Maret lalu. Mungkin merasa dilecehkan oleh lagu tersebut Badan Kehormatan para wakil-wakil rakyat rakyat yang terhormat di DPR, mencoba memberi warning pada SLANK. Bahkan sempat terdengar, bahwa ada niatan para wakil rakyat untuk memperkarakan SLANK.

Beberapa saat setelahnya Komisi Pemberantasa Korupsi, melakukan penangkapan terhadap AL Amin Nasution (anggota komisi IV DPR-RI) atas dugaan kasus suap. Penangkapan yang seakan ingin membenarkan bahwa lagu SLANK tersebut bukan sepenuhnya gossip jalanan. Mulai mengatur langkah, Badan Kehormatan DPR tak lagi mencoba memperkarakan persoalan tersebut.

Lagu “gossip jalanan”, ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus di persoalkan. Jika di telaah memang ada semacam ketidakpercayaan rakyat kecil terhadap kelembagaan Negara dan aparatur pemerintahan. Tak perlu ditutupi ini terlihat dari jumlah Pemilih yang golput ataupun yang tidak memilih pada pemilu 2004 yang sangat besar. Bukan cuman pada pemilu, pada beberapa momentum pilkada juga terlihat indikasi tersebut.

Pilihan-pilihan rakyat dalam berbagai pesta demokrasi di negri ini, juga mengarah kepada kebutuhan alternative atau sosok-sosok baru. SBY – JK dipilih di tahun 2004 ketika bersaing dengan wajah-wajah lama. Kemenangan HADE di jabar, juga bukti bahwa ada kebutuhan sosok alternatif. Di beberapa tempat memang masih ada muka-muka lama yang berhasil memenangkan pesta demokrasi. Tapi tak bisa di pungkiri dukungan pada hal-hal baru (baca : alternative) sangatlah besar.

Pilihan-pilihan di atas menunjukan sebuah kejenuhan di masyarakat terhadap sosok-sosok lama yang tak juga berhasil menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Manifestasi yang bagi sebagian orang belum mampu terjelaskan melalui berbagai alat, sehingga menjadi gossip di tingkatan rakyat kecil. Obrolan pinggiran dikala silatuhrahmi pagi membeli sayur bagi ibu-ibu, atau obrolan tengah malam bagi kaum lelaki di warung kopi.

Bahwa memang ada suatu ketidak percayaan di masyarakat terhadap pemerintahan, lembaga tinggi Negara ataupun aparaturnya. Ketidak percayaan yang muncul karena tak kunjung berubahnya nasib rakyat dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, presiden satu ke presiden baru. Ada yang menganggap lingkaran politik dan kekuasaan kita kotor, walau belum terbukti sepenuhnya.

Lagu SLANK sendiri hanya sekedar memotret tanggapan masyarakat, sebuah tanggapan yang kemudian dimenifestasikan dalam sebuah karya seni. Sebuah apresiasi seharusnya diberikan pada karya seni SLANK yang mencoba jujur dalam memotret keresahan di masyarakat.

Persoalan karya seni yang kotroversial bukanlah hal yang baru. Dengan beberapa lagunya Iwan Fals sempat merasakan dinginnya ubin bui. Doel sumbang juga pernah mengalaminya. Itu semua terjadi di massa orde baru ketika kebebasan di semua bidang memang sekedar menjadi sebuah impian. Dalam era keterbuakaan seperti ini menjadi suatu kemunduran ketika melihat fenomena lirik lagu SLANK sebagai hal yang harus ditanggapi serius, bahkan sampai berniat untuk menuntut.

Grup music SLANK bukanlah satu-satunya grup music yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu sosial-kemasyarakatan. Di dunia Indie label atau underground ada beberapa band yang bahkan semua lagunya berbau kritik-kritik sosial. Marjinal dan Bunga Hitam, dua band beraliran punk ini adalah contohnya. Bahkan hampir semua lirik lagu mereka selalu bernuansa kritik keras terhadap fenomena-fenomena sosial-kemasyarakatan dewasa ini.

Menurut jejak Pendapat yang dilakukan oleh Litbang SINDO terlihat ada sekitar 91 persen masyarakat yang menganggap menyatakan pendapat melalui lagu adalah wujud kebebasan berekspresi. Masyarakat sudah dewasa biarkan mereka memilih pendapat mana yang bisa dipercaya. Menjadi tampak kekanak-kanakan bagi masyarakat jikalau mengkotakan salah benar dalam kebebasan seni. Sebaikanya lirik lagu bernuansa kritik ditelaah lebih jauh kebenarannya oleh para pengatur jalannya Negara. Jika benar mari katakan benar, jika salah mari beri bukti. Rakyat butuh bukti nyata kerja keseriusan pemerintahan di segala bidang, bukan janji, omong kosong, basa-basidan tetek bengek elit.

~ by batumerah79 on April 27, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s