Aksi 2 Mei Jogjakarta, Cermin Fragmentasi Gerakan Mahasiswa

Pukul 8.30, udara pagi masih terasa dingin, setelah semalam hujan terus membasahi Kaki Gunung Merapi. Mengumpulkan sedikit tenaga, mengucek mata dan sedikit gerakan “senam bangun tidur”, menjadi ritual wajib di setiap pagi. 2 Mei Hari Pendidikan Nasional, aksi massa dari taman parkir Abu Bakar Ali – Gedung Agung, isu pendidikan gratis, demokratis dan ilmiah untuk rakyat. Begitu kalimat pendek di layanan pesan singkat, yang kayaknya masuk dari semalam baru terbaca pagi ini.

Tiba di jalur massa aksi yang disepakati, tak langsung bergabung kususuri Jalanan Malioboro. Ada tiga aksi yang tampak, mulai bingung yang mana aksi yang bakal kuikuti. “Bos, kita ikut aksi yang mana” sebuah pesan singkat terkirim dari telepon genggamku. “Massa kita yang sekarang di depan gedung DPRD” bunyi balasan pesan singkat tersebut.

Kaki melangkah cepat menuju gedung DPRD tingakat I DIY. Ikut bergabung dengan hiruk pikuk massa aksi. Yel-yel perjuangan terus diteriakan, nyanyian pembebasan terdengar lantang, Orasi-orasi politik membahana membakar semangat. Hiruk-pikuk yang ternyata tidak hanya melibatkanku. Tapi juga terjadi pada sekitar 600 an massa aksi yang mengikuti aksi memperingati hari pendidikan nasional ini.

Ada beberapa fakta menarik yang terlihat pada aksi kali ini. Peringatan Hari Pendidikan Nasional ini tidak hanya di sambut oleh satu atau dua aksi. Tapi ada lima aksi gerakan mahasiswa yang merespon hari ini. Jika dilihat dari kedekatan isu, memang hari pendidikan merupakan momentum yang sangat ekonomis bagi mahasiswa. Apalagibagi Jogja yang memang terkenal dengan julukan kota pelajar. Jangan heran jika ada sekitar 600an massa yang turun di Yogyakarta pada hari ini.

Enam ratus orang merupakan sebuah jumlah yang cukup banyak, jika mengingat fakta kuantitas massa aksi (gerakan mahasiswa) akhir-akhir ini yang cenderung menurun. Belum cukup itu menjadi fakta menarik. Fakta bahwa ada sekitar lima komite aksi yang melakukan aksi juga menarik untuk di telaah. Isu yang mereka teriakan atau tuntut memiliki banyak kesamaan. Kalopun berbeda, dalam memperingati hari pendidikan nasional (yang tuntutannya ekonomis) perbedaan itu tampak kabur. Dalam kata lain perbedaan isu tidak menyentuh hal yang substansi.

Semua gerakan mahasiswa mahasiswa yang turun hari iru di Jogjakarta, menyebut pendidikan di bangsa ini sangat kapitalistik. Mereka memprotes pendidikan dinegri ini sangat mahal, sehingga hanya mampu diakses oleh orang-orang dengan ekonomi yang mapan. Mereka juga meminta pemerintah untuk merealisasikan anggaran pendidikan. Serta menuntut alam pendidikan yang objektif.

Keriuhan peringatan hari pendidikan nasional di Jogjakarta, telah “berhasil” mencerminkan pada kita fragmentasi gerakan mahasiswa. Sangat berbeda dengan gerakan mahasiswa pada awal pecahnya reformasi. Pada masa itu gerakan mahasiswa walaupun berbeda organisasi, komite dll mampu bersatu-padu agenda menumbangkan Soeharto.

Pada saat ini ada satu gejala fatal dalam gerakan mahasiswa (pada khususnya dan gerakan rakyat pada umumnya) yaitu fragmentasi gerakan. Fragmentasi ini haruslah disayangkan, mengingat ada kesamaan tujuan, isu serta tuntutan dalam masing-masing gerakan. Jika dalam sebuah aksi massa (yang lebih bersifat tekhnis) gerakan menjadi sulit untuk di persatukan, apalagi dalam urusan-urusan strategis seperti taktik dan lain-lain.

Menurut hemat penulis ada beberapa hal yang menyebabkan fragmentasi gerakan mahasiswa dewasa ini. Yang pertama adalah garis ideology, hal ini adalah persoalan mendasar bagi sebagian orang digerakan pada saat ini. Seakan menjadi haram bagi gerakan A untuk bergabung dengan gerakan B. Karena perbedaan ideology, sesama gerakan mahasiswa seakan menyimpan prasangka.

Susahnya gerakan mahasiswa yang bernuansa Islam untuk bergabung dengan gerakan-gerakan yang kadang diidentikan sebagai gerakan radikal-kiri. Hal itu adalah contoh yang terjadi di Jogjakarta pada peringatan Hari Pendidikan Nasional. Selain itu perbedaan ideology juga seakan menjadi alasan bagi beberapa gerakan nasionalis untuk bergabung dengan gerakan lainnya. Seakan ideology telahj menjadi semacam tuhan yang tak tunggal dan esa kebenarannya.

Yang kedua adalah kuatnya eksistensi masing-masing gerakan mahasiswa. Terlihat jelas dengan terpecah-pecahnya gerakan mahasiswa di Jogjakarta pada peringatan Hari Pendidikan Nasional. Kelima komite aksi tidak bisa melepas atribut masing-masing, untuk memanfaatkan hari ini sebagai momentum pemersatu.

Salah seorang pimpinan Komite Aksi mengatakan, bahwa komite aksi-nya sudah berhasil bergabung dengan dua komite aksi lainnya. Akan tetapi entah kenapa dalam perjalannya komite aksi yang sudah bergabung dan sempat beraksi bersama ini pecah ke dalam dua kekuatan. Menurut hemat penulis, hal ini terjadi karena ada semacam eksistensi di masing-masing gerakan. Adanya kecenderungan untuk menguasai ataupun sekedar prasangka akan hal itu, kembali jadi pemicu terpecahnya sebuah gerakan bersama.

Belum lagi fakta, bahwa beberapa komite aksi telah melakukan negosisasi untuk melakukan penggabungan tetapi tetap saja gagal. Padahal seperti sudah disebutkan di atas mereka meneriakan hal yang secara garis besar sama. Sebuah eksistensi, yang terkadang terlihat sangat kekanak-kanakan. Eksistensi jika dipahami secara benar akan menjadi baik bagi setiap gerakan mahasiswa. Tapi eksistensi dengan menolak prinsip-prinsip persatuan adalah suatu kecelakaan dalam perjuangan.

Perjuangan ini membutuhkan sebuah persatuan yang kokoh. Bukankah para pendahulu gerakan mahasiswa telah memberikan contoh itu. Dari tahun-ke tahun perubahan sukses dilakukan jika ada suatu persatuan di dalamnya. Tahun pra kemerdekaan persatuan ditunjukan dengan Sumpah Pemuda. Tahun 1945 ditunjukan dengan persatuan mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Begitu pula ditahun-tahun selanjutnya.

Penyebab ketiga dari fragmentasi gerakan mahasiswa saat ini adalah Gerakan Spontan, gerakan yang tidak memiliki suatu basis sandaran ideologi ini akan sangat berbahaya. Gerakan seperti ini selain lemah dalam kerangka tujuannya, juga akan sangat susah untuk meletakan eksistensinya. Jenis gerakan ini akan bergerak dengan isu-isu momentumal. Secara umum gerakan seperti ini akan sangat sulit meninggalkan keheroikan zaman mahasiswa. Padahal keheroikan ini sudah sama-sama kita insyafi sebagai jurang pemisah utama antara gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat.

Pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Jogjakarta juga terlihat gerakan dengan model seperti ini. Gerakan yang dengan modal keheroikan ala mahasiswanya, berteriak lantang mengesankan perubahan ini takan pernah berhasil jika tanpa mereka. Citi utama dari gerakan ini adalah gerakan ini akan bergerak jika isu tersebut adalah persoalannya. Soal-soal lainnya adalah urusan yang tak wajib hukumnya untuk di respon. Tanpa memunafikan kekuatan gerakan seperti ini (karena real gerakan seperti ini sebenarnya memiliki kekuatan massa yang besar) yang harus diingat, keheroikan, kritis dan kesadaran ekonomis takan pernah berujung pada perubahan besar. Kita butuh sebuah gerakan yang terarah dan secara sistematis mampu melumpuhkan lawan-lawan politik bangsa ini.

Selama gerakan mahasiswa tidak mampu membuang ketiga sekat di atas, maka selamanya gerakan mahasiswa tidak akan bermuara pada suatu perubahan besar di negri ini. Padahal jika kita melihat dari isu-isu yang diteriakan gerakan mahasiswa kesemuanya memiliki satu musuh besar. Semuanya menginsyafi bahwa persoalan masyarakat Indonesia saat ini, diakibatkan oleh globalisasi atau neo liberalisme atau imperialisme atau penjajahan asing atau apapun namanya yang searti dengannya.

Artinya gerakan mahasiswa sebenarnya telah melewati proses untuk menentukan musuh bersamanya. Sama seperti gerakan mahasiswa terdahulu suatu penginsyafan akan musuh bersama ditambah dengan sebuah persatuan yang kokoh akan menghasilkan suatu perubahan. Ingat bagaimana gerakan tahun 1998 adanya musuh bersama, serta bersatu padunya mahasiswa menghantam musuh bersama tersebut. Atau isu kemerdekaan pada masa revolusi ’45 serta lain sebagainya.

Perlawanan terhadap imperialisme asing itu seharusnya yang menjadi basis utama dari persatuan gerakan pada saat ini. Bisa kita lihat dari pergantian pemerintahan sebanyak sebanyak empat kali setelah reformasi tak juga berhasil menyelesaikan persoalan. Hal ini jelas karena bangsa ini selama empat kali pergantian pemerintahan itu belum juga mampu berdiri sendiri. Bangsa ini masih berada dalam jerat imperialisme asing. Dan nyata jerat imperialisme asing inilah yang menghantarkan kita pada krisis tak kunjung padam.

Krisis minyak dunia yang sedang terus terjadi, memaksa pemerintahan kita (siapapun selama masih tunduk pada asing) untuk menaikan harga BBM. Pendidikan kita sedari kemarin hingga saat ini tetap berorientasi pada kebutuhan tenaga kerja (buruh) bagi kepentingan-kepentingan ekonomi global. Hutang kita tetap menumpuk, tanpa ada usaha untuk meminta pengurangan atau penghantian malah penambahan utang yang dilakukan. Krisi pangan bahkan mengancam negeri yang terkenal subur ini. Sederetan kisah diatas sudah tuntas dibaca gerakan mahasiswa sebagai ekses dari ketertundukan kita pada imperialisme asing.

Untuk itu sudah saatnya bagi gerakan mahasiswa untuk menyatukan diri guna menghantam musuh bersama mereka. Cukup lama (sudah lama sejak reformasi teriakan perlawanan terhadap imperialisme asing diteriakan) bagi kita untuk menyadari kelemahan kita bersama. Sudah saatnya bagi gerakan mahasiswa untuk duduk bersama menentukan program-program strategis bersama. Karena hanya sebuah persatuan yang kokoh gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat lainnya, yang bisa menghantarkan negeri ini pada sebuah perubahan.

~ by batumerah79 on May 5, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s