Krisis Dunia, Curhatan Rakyat dan Popularitas Pemerintahan

Pemilu 2009 sebentar lagi, bahkan dalam hitungan bulan massa kampanye akan segera di mulai. Sementara itu situasi ekonomi internasional, masih menawarkan hal yang sama (gejolak krisis tak tertahan). Krisis pangan mengancam dunia, Indonesia masuk dalam tarafan rawan dalam hal ini. Krisis energy juga datang setelah sepintas berlalu. Krisis energi menghantarkan dilemma pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Saking dilemmanya, presiden merasa perlu untuk menyampaikan pidato tengah malam melalui stasiun TVOne. Seperti halnya pidato-pidato presiden sebelumnya, deretan prestasi menjadi penghias di awal-awal pidato. Mulai dari keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi sampai pada kesuksesan mengakhiri konflik-konflik di daerah. Signal sulitnya keadaan (meminjam istilah Kompas, Jumat 2 Mei 2008), di sampaikan diakhir pidato ini. Presiden menyebut krisis pangan dan energi dunia adalah sebuah tantangan. Beliau juga meminta kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mendukung program-program pemerintah dalam mengatasi hal tersebut.

Sejatinya pidato ini adalah “curhat” pemerintah tentang krisis yang tak terelakan tersebut. Kenaikan harga BBM (sebagai imbas dari krisis energy dunia) takan bisa lagi dielakan. APBN – P 2008 disusun dengan asumsi harga minyak dunia mencapai 95 dollar AS per barrel. Padahal harga minyak dunia terus menaik bahkan mencapai 120 dollar per barrel. Bahkan diramalkan beberapa ekonom dunia akan mencapai angka 200 dollar per barrel pada akhir tahun 2008.

Rencana penaikan harga BBM nampak semakin jelas. Melihat fakta bahwa Departemen Keuangan telah menyiapkan 86 skenario kenaikan harga BBM (Kompas, minggu 4 Mei 2008). Dalam skenario itu, rencana kenaikan terendah 25 persen. Artinya jika itu yang terjadi harga premium bisa mencapai angka 6000 an rupiah per litternya. Sebuah harga yang tidaklah kecil mengingat daya beli masyarakat kita.

Melihat fakta tersebut, sangatlah mungkin jika pidato tengah malam presiden dinilai sebagai tanda awal rencana pemerintah untuk menaikan harga BBM. Sebuah keputusan yang sangat sulit dan tidak populis. Belum lagi mei ini pemerintah juga harus mendengar banyak “curhatan” rakyatnya. Awal Mei ini pemerintah sudah harus mendengar dua elemen rakyat menyampaikan curhatannya.

Jadilah awal bulan ini dihiasi dengan agenda curhat-mencurhat di negara ini. Buruh dengan peringatan hari buruh sedunia bercerita tentang penghidupan yang makin sulit. Serta meminta pemerintah untuk mengkaji sejumlah kebijakan, antara lain penetapan upah yang layak. Belum lagi hari Pendidikan Nasional, yang disambut dengan keluhan umum masyarakat tentang mahalnya beaya pendidikan. Mahasiswa juga berteriak tentang system pendidikan yang sangat kapitalistik. Para guru mengeluhkan kesejahteraan mereka.

Ditengah hantaman tuntutan rakyat yang semakin besar, popularitas pemerintahan SBY akan berkurang. Belum lagi jika memang pemerintah berani mengambil kebijakan menaikan harga BBM, akan semakin besar rasa ketidak percayaan rakyat terhadap pemerintahan hari ini.

Tentunya sebuah kerugian besar bagi pemerintahan SBY, jika harus menaikan harga BBM. Apalagi mengingat agenda pemilu 2009 yang semakin dekat. Masyarakat akan dengan cepat mengingat momentum kenaikan BBM nanti, pada saat pencoblosan.

Di saat lawan-lawan politiknya sedang bersiap menuju kampanye. SBY malah direpotkan dengan fakta-fakta global, yang menjeratnya (serta rakyat negri ini) pada pilihan tersulit untuk menaikan BBM. SBY malah harus memanaskan mesin untuk mengkampanyekan tentang kenaikan harga BBM, sebelum memanaskan mesinnya sendiri menuju 2009.

Ini menjadi peluang besar bagi lawan-lawan politik SBY untuk mendahului popularitas pemerintahan SBY. Sebagaimana kita pahami SBY dalam berbagai polling menuju Pilpres 2009 masih menjadi raja dibanding tokoh-tokoh lainnya. Apabila agenda kenaikan BBM tetap dijalankan, bukan tidak mungkin popularitas tokoh-tokoh lain bakal naik, dan menggeser popularitas SBY.

Apalagi mengingat kecenderungan pemilih Indonesia yang cepat beralih dari pilihan satu ke yang lainnya. Ingat bagaimana pemerintahan Megawati dan PDIP yang begitu jumawa menguasai pemilu 1999, malah ditinggalkan pemilih pada pemilu 2004 yang lalu. Bukan tidak mungkin apa yang dialami oleh Megawati di tahun 2004 bisa terjadi pada SBY di tahun 2009. Ingat salah satu penyebab dari menjauhnya pemilih Megawati adalah kebijakan non populisnya, salah satunya adalah kenaikan harga BBM.

~ by batumerah79 on May 5, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s