Hari Kebebasan Pers Sedunia

Hari Kebebasan Pers baru saja di peringati oileh insan pers sedunia. Di Indonesia, Aliansi Jurnalis Independent menghimpun ada sekitar 60 kasus kekerasan (Kompas, Senin 5 Mei 2008). Kasus tersebut melikupi kasus ancaman, tuntutan, pelecehan, pengusiran, pemenjaraan, serangan fisik, serta tuntutan hukum.

Belum lama ini terjadi preseden buruk bisa terjadi lagi bagi kebebasan pers di negri ini. Chenry Andrew Suripati, wartawan Trans Tv di Jayapura mendapatkan panggilan dari Polresta Jayapura. Pemanggilan ini terkait dengan penayangan berita pengibaran bendera Bintang Kejora di Kelurahan Yanbasay, distrik Hareem. Pihak polresta ingin meminta keterangan tentang pelaku pengibaran tersebut.

Hal ini bisa menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers. Jika di lihat dari tujuan pemanggilan yang dilakukan Polresta Jayapura, sungguh bertolak belakang dengan hak tolak sebagai jurnalis. Yang dimaksud hak tolak adalah hak untuk menyembunyikan identitas narasumber. Dalam undang-undang pers hak tolak ini diatur pada UU nomor 40 tahun 1999. Semua organisasi wartawan di Indonesia juga mencantumkan hak tolak dalam kode etik kerja-kerja jurnalistik mereka.

Dewan Pers juga menyatakan keberatannya, terhadap kasus pemanggilan tersebut. Dalam salah satu butir pedoman Dewan Pers, bahkan aparat penegak hukum diminta memahami tugas dam kerja wartawan yang meliput kegiatan, mencari, mengolah dan menyebarluaskan informasi (Kompas, Selasa 6 Mei 2008).

Pemanggilan dengan dalih tersebut diatas, bisa mengindikasikan beberapa hal. Pertama adalah ketakpahaman aparat penegak hukum kita tentang kebebasan pers. Kebebasan pers yang dirasa perlu dijaga, sehingga harus dilegalkan dalam bentuk undang-undang. Jika memang tak paham tentang hal tersebut, kasus pemanggilan tersebut patut untuk dijadikan pelajaran berharga bagi kita semua.

Kedua bisa saja hal tersebut juga ditafsirkan sebagai usaha-usaha pemangkasan kebebasan pers. Bahkan lebih jauh lagi bisa ditafsirkan sebagai bentuk watak militeristik yang memang masih tinggal di kepala korps berbaju coklat tersebut. Sekedar pengingat ini bukan lagi zaman dimana kebebasan pers masih dipasung. Bukanlah zaman ketika berita tak lagi menyenangkan media langsung di bredel atau bukanlah zaman “penghilangan paksa” jurnalis.

Pemanggilan terhadap Chenry Andrew Suripati, memang hanyalah contoh yang mungkin terlalu dini jika disimpulkan sebagai upaya menghambat kebebasan pers. Akan tetapi apabila peristiwa seperti ini tidak disikapi dengan serius bukan tak mungkin zaman kegelapan pers, seperti di zaman orde baru bisa terjadi lagi.

~ by batumerah79 on May 13, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s