Ini Juga Kekerasan …

Hari baru saja beranjak siang. Kerumunan mahasiswa di kantin fakultas sastra UGM mulai terlihat ramai, ketika rombongan kami mengambil tempat di tengah kantin tersebut. Rombongan kecil kami beranggotakan empat orang, tujuannya menyampaikan orasi politik, menyanyikan lagu-lagu perlawanan sambil membagi sehelai kertas berisikan polling referendum tentang kenaikan harga BBM.

Referendum bertujuan ingin melihat tanggapan masyarakat tentang kenaikan harga BBM, ini adalah rangkaian agenda dari Posko Induk Batalkan Kenaikan Harga BBM yang didirikan oleh Komite Rakyat Bersatu (KRB). KRB sendiri adalah sebuah front perlawanan bersama, terdiri dari sejumlah organisasi mahasiswa, masyarakat, buruh dan kaum miskin kota yang berada di Jogjakarta.

Saya bertugas sebagai pembagi kertas referendum serta memintanya kembali. Kebanyakan dari mereka yang mengisi referendum, menyatakan menolak kenaikan harga BBM (bukan hanya di mahasiswa, masyarakat pun mengungkapkan hal senada). Walau demikian banyak dari mereka juga mengatakan tak ingin mengikuti demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM.

Setelah beberapa kawan menanyakan kenapa mereka tak ingin mengikuti aksi massa tersebut, mereka mengatakan takut akan terjadi kekerasan. Tapi di lain sisi mereka mengatakan bahwa mereka mendukung tuntutan-tuntutan dari para demonstran agar BBM tidak dinaikan.

Potret ironi ini adalah buah dari kesuksesan kampanye hitam terhadap gerakan mahasiswa yang dilakukan oleh pemerintah. Semenjak kasus Universitas Nasional (UNAS), terjadi serangkaian pembangunan opini masyarakat yang dilakukan lewat media massa. Aksi-aksi demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM, diidentikan dengan kekerasan yang merugikan orang banyak. Dengan dalih ini jalan kekerasan yang diambil aparat kepolisian dalam menangani aksi demonstrasi terlihat menjadi sah-sah saja dilakukan. Pola-pola ini sebenarnya ingin mengalihkan konflik menjadi konflik antara masyarakat dengan para demonstran.

Kasus UNAS semisal, salah satu alasan yang dipakai untuk membubarkan demonstrasi adalah terganggunya masyarakat sekitar UNAS dengan aksi tersebut. Padahal merujuk pada pernyataan salah seorang masyarakat, “Saya tidak merasa terganggu, asal mereka tidak masuk kampung” ujar Nani seorang warga yang rumahnya berhadap-hadapan dengan kampus UNAS (TEMPO, 2 – 8 JUNI 2008). Bahkan seorang pedagang makanan di depan kampus UNAS, mengatakan tak terganggu dengan demonstrasi tersebut. Walau tempatnya juga menjadi korban pelemparan mahasiswa yang mencoba menghalau serbuan aparat (potongan wawancara TV One).

Begitu pula pembubaran demonstrasi yang terjadi di Universitas Moestopo Beragama dan Universitas Kristen Indonesia (UKI). Alasannya adalah mahasiswa menganggu lalu lintas, sehingga merugikan orang banyak. Ada insiden menarik dari aksi demonstrasi di Universitas Moestopo Beragama, ketika ada seorang polisi (yang memasuki usia akhir masa jabatannya/pensiun) melintas di kerumunan mahasiswa yang sedang melakukan aksi. Dari kerumunan mahasiswa muncul seorang berbadan tegap dan berambut cepak. Dia menghampiri polisi tersebut dan melakukan tendangan terlatih terhadap polisi tersebut.

Kejadian tersebut berhasil direkam sejumlah media. Dengan adanya insiden tersebut pemberitaan media pun melekatkan aksi mahasiswa dengan kekerasan. Padahal terekam juga bagaimana mahasiswa, mencoba mencegah serangan selanjutnya dari oknum tersebut. Pertanyaan selanjutnya siapa oknum itu ? Sampai sekarang hal ini masih misterius. Pihak kampus moestopo beragama sendiri membantah mahasiswanya melakukan pemukulan tersebut.

Usaha-usaha pemerintah untuk meredam aksi-aksi penolakan kenaikan harga BBM, makin mengilusi masyarakat. Setelah menaikan harga pembagian BLT sebuah running text di layar televisi memuat info singkat dari pernyataan wapres Jusuf Kalla. Wapres : meminta para penerima BLT untuk mendesak para demonstran agar menghentikan aksi demo kenaikan BBM. Bahkan belakangan setelah pernyataan tersebut, ratusan massa dimobilisasi untuk melakukan demonstrasi mendukung BLT. Upaya-upaya pemerintah ini bertujuan untuk mengalihkan konflik vertical menjadi sebuah konflik horizontal. Sebuah politik gaya lama di masa penjajahan, yang dikenal dengan nama politik adu domba.

Di Jogjakarta aksi yang dilakukan oleh Komite Rakyat Bersatu (KRB), juga tak luput dari gaya politik ini. Aksi yang berlangsung pada 1 Juni 2008 ini dimaksudkan untuk mengepung gedung agung sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga BBM. Ketika para demonstran sampai di gedung agung, ada begitu banyak personel kepolisian baik yang berseragam maupun tidak. Bahkan dilengkapi dengan peralatan anti huru-hara (watter cannon, kawat berduri dll).

Fokus masyarakat terhadap demonstrasi juga dialihkan. Dengan adanya sebuah panggung dangdut yang berada di sisi utara gedung agung, sekitar 20 meter dari konsentrasi massa. Belakangan begitu aksi demonstrasi usai panggung dangdut pun usai, pralatannya bahkan diangkat menggunakan mobil-mobil kepolisian.

Selain itu, terlihat jelas dalam aksi ini tidak ada upaya dari aparat kepolisian untuk mengalihkan konsentrasi kendaraan. Bahkan semua kendaraan diarahkan ke konsentrasi demonstrasi berlangsung, tak pelak kemacetan pun terjadi. Setelah kemacetan terjadi, kesalahan dilimpahkan kepada para demonstran. Padahal ketika aksi pada tanggal 21 Mei 2008 (dengan isu sama, di saat momentum kebangkitan nasional) ada upaya polisi untuk mengalihkan konsentrasi kendaraan. Hal itu bisa dilakukan, walau aksi ketika itu (21 Mei ) berujung bentrok, tapi bentrok terjadi dengan aparat kepolisian. Belajar dari kejadian tersebut maka gaya adu domba pun dipilih.

Akhirnya massa KRB pun mengalah dengan memberi jalan kepada para pengemudi kendaraan. Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik horizontal, yang hanya akan membuat korps baju coklat tertawa. Beberapa pengguna jalan malah melempar senyum dan berteriak mendukung demonstrasi. Seperti yang dilakukan oleh beberapa sopir, kondektur bus kota serta ibu-ibu rumah tangga. Walau ada juga sosok yang dengan arogan melakukan tindakan provokasi, dengan membuang gas sekeras-kerasnya serta membunyikan klaxon. Bahkan beberapa diantara orang-orang seperti ini, sengaja ingin menyerempet barisan demonstrasi.

Fungsi aparat kepolisian adalah menjaga keberlangsungan aksi. Aparat kepolisian juga seharusnya menjaga ruang-ruang penyampaian pendapat. Jika memang ruang itu bisa dilakukan kenapa tidak diberikan. Toch masalah kendaraan yang macet (dalam kasus aksi KRB Jogjakarta) bisa dialihkan, seperti pada aksi sebelumnya (21 Mei 2008). Menjadi pertanyaan apakah karena pada aksi 21 Mei juga ada aksi elite-elite politik (koalisi parpol menentang kenaikan harga BBM), sehingga hal ini bisa dilakukan ?

Kekerasan, Kenapa Bisa Terjadi ?

Kekerasan yang belakangan sering terjadi dalam aksi-aksi demonstrasi gerakan mahasiswa, tidak bisa dilihat dalam satu momentum saja. Tetapi harus dilihat dalam berbagai momentum, berikut rangkaian-rangkaian aksi sebelumnya. Satu bulan belakangan memang aksi-aksi mahasiswa marak terjadi. Aksi-aksi ini pada awalnya juga berlangsung santun.

Mobilisasi besar-besaran pun meminta ruang dialog. Contohnya, sebuah aksi dari BEM SI meminta diadakannya dialog dengan SBY-Kalla, tapi sampai dua hari massa bertahan tak ada tanggapan dari pemerintah. Pemerintah tetap pada rencananya menaikan harga BBM, walau aksi massa terus meluas di berbagai kota (baik kota besar maupun kecil). Ruang dialog pun tak pernah dibuka oleh pemerintah. Baru sekarang pemerintah menyarankan untuk menempuh jalur-jalur damai seperti dialog.

Pernyataan-pernyataan pemerintah ketika aksi-aksi penolakan kenaikan harga BBM meluas, pun bisa dinilai memperkeruh suasana. Seperti isu penunggangan demonstrasi penolakan kenaikan BBM, yang dilontarkan Syamsir Siregar. Yang selanjutnya diamini oleh SBY-Kalla di dua kesempatan terpisah, pada tanggal 21 Mei 2008. Belum lagi pernyataan wapres tentang pendemo yang hanya berjuang untuk kaum menegah ke atas dan tak berpihak pada kaum miskin. Pernyataan-pernyataan seperti ini, sangat memperkeruh suasana dan memancing reaksi keras dari para demonstran.

Akumulasi demonstrasi, berujung pada meningkatnya keradikalan demonstrasi. Cara-cara radikal pun dilakukan gerakan mahasiswa, pembakaran foto SBY-Kalla dan ban-ban bekas adalah bentuk kekecewaan gerakan terhadap pemerintahan saat ini. Aksi massa seperti ini, pun ditanggapi dengan arogan oeh kepolisian. Pemberlakuan siaga 1 bagi pasukan POLRI, juga terkesan memposisikan gerakan mahasiswa sebagai gerakan terror.

Pengerahan jumlah aparat yang banyak dalam setiap demonstrasi menolak kenaikan BBM pun dilakukan. Di mata mahasiswa, hal ini terlihat sebagai bentuk arogansi kepolisian dalam membela kebijakan pemerintah. Kedua kelompok hadap-hadapan di lapangan (walau keduanya terkena imbas kebijakan tersebut). Secara psikologis dalam posisi face to face dan pertarungan psikologis sangat sulit mencari tahu siapa yang memulai kekerasan terlebih dahulu. Seharusnya jika ingin mengamankan aksi-aksi tersebut, tindakan persuasf dulu yang dilakukan. Bukan dengan unjuk kekuatan, yang terkesan memposisikan mahasiswa sebagai musuh.

Dilain sisi keresahan akan kenaikan harga BBM di masyarakat akan terus terasa. Beriring waktu masyarakat akan merasakan kerugian-kerugian setelah kenaikan harga BBM. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di berbagai kota seperti Solo, Pekalongan, Pasuruan, Purwakarta, Tegal dan Sidoarjo terancam gulung tikar (Kompas, 2 Juni 2008). Mogok-mogok angkutan kota menuntut kenaikan tarif di berbagai kota (Surabaya, Jakarta, Depok, Slawi, Jambi, Kupang dan Kendari) terus terjadi. Harga-harga bahan pokok perlahan naik, mencari kestabilan harganya. Seperti ramalan beberapa ekonom (yang tak bersepakat dengan kenaikan BBM) gejolak ekonomi selepas kenaikan BBM, akan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan.

Beberapa bulan ke depan, tahun ajaran baru bagi dunia pendidikan akan segera tiba. Di saat itu akan terasa sekali kenaikan harga, karena setiap keluarga yang memiliki anak usia sekolah harus ekstra hemat. Gejolak ekonomi juga akan dirasakan oleh nelayan, yang mulai sulit untuk melaut karena harga solar yang naik. Begitu pula kaum buruh yang terancam PHK, dengan dalih penghematan ongkos produksi perusahaan. Seperti kenaikan harga BBM sebelumnya (2005) yang menghasilkan 250.000 orang kehilangan pekerjaan, hal ini juga akan dirasakan beberapa bulan ke depan.

Kebijakan pemerintah menaikan harga BBM harus jujur juga kita katakan sebagai kekerasan. Jika kita sepakat kekerasan yang dimaksud adalah tindakan yang merugikan orang lain (seperti dalih pemerintah saat ini). Kekerasan pemerintah akan merugikan lebih banyak orang tentunya. Akan berapa keluarga yang terancam jika sebuah perusahaan gulung tikar. Seberapa sulitnya para sopir angkot mengejar setoran yang semakin besar jumlahnya. Ada berapa anak yang sulit mengikuti aktivitas sekolah, karena keluarga harus berhemat untuk beaya hidup. Berapa keluarga nelayan yang harus berpikir keras mencari ikan sambil menghemat ongkos solar bagi motornya. Keluarga-keluarga juga akan mengalami kekerasan, karena factor ekonomi yang kian menjepit (factor ekonomi penyebab tertinggi dari kasus kekerasan terhadap rumah tangga). Ini juga kekerasan bung.

~ by batumerah79 on June 3, 2008.

One Response to “Ini Juga Kekerasan …”

  1. KAntin UGM???
    Jangan lupa aksi tanggal 10 (Hari HAM INternasional)
    MET IDUL ADHA Y.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s