SMS TERKIRIM, UNTUNG PUN DATANG

Anjing menggong-gong bersahutan, kodok-kodok berdendang mensyukuri hujan yang baru saja lewat. Setengah dari malam baru saja lewat. Wanita cantik di layar televisi terus saja mengajak pemirsa untuk mengirim SMS. Ketik BS kirim ke empat digit nomor tertentu (dengan pulsa tertentu pula), terus menerus diucapkan sosok cantik dengan pakaian menggoda itu. Aksen manja nan menggoda menjadi senjata utama untuk merayu pemirsa guna mengirim SMS.

Itulah salah satu acara kuis yang menggunakan layanan SMS empat digit, di layar televisi kita. Akhir-akhir ini marak sekali program-program yang bertujuan meraup keuntungan dari SMS. Ada ajakan untuk menyusun huruf-huruf menjadi sebuah rangkaian kata yang benar. Sampai mainan besaran kadar cinta dari pasangan.

Semuanya gampang tinggal mengetik kata tertentu di HP anda, lalu kirim ke empat digit nomor tertentu. Selanjutnya akan ada balasan berupa pin atau ucapan selamat. Bagi acara yang bersifat kuis pemenangnya akan diumumkan, setelah diundi terlebih dahulu. Cara lainnya : nomor-nomor yang masuk bakal diundi, selanjutnya nomor yang beruntung akan ditelepon. Jika bisa menjawab sebuah pertanyaan maka hadiah bisa dibawa pulang. Ada juga yang bersifat interaktif seperti sebuah layanan di stasiun Global TV. Tinggal mengetik ‘LOVE<spasi>nama kamu<spasi>nama pasanganmu’, maka akan ada sebuah balasan langsung di layar televisi. Semisal radit & jani 90 %, dilengkapi dengan sedikit komentar.

Ditambah lagi dengan sejumlah iklan layanan SMS, yang juga marak sekali di stasiun-stasiun televisi kita. Mulai dari ring tone, game-game hp, sms-sms joke, layanan chating, pesan-pesan agama, ramalan, hingga sms hot dari seorang kekasih pun bisa didapatkan dari sebuah layanan-layanan SMS tersebut. Tak kurang dari seorang dai, paranormal hingga bintang seksi seperti Sarah dan Rahma Azhari menjadi icon dari layanan-layanan SMS tersebut.

Acara serta iklan-iklan tersebut dipromotori oleh gateway (content provider), yang tugasnya membikin empat digit nomor khusus tersebut (contoh : 6288, 9288, 7288 dll). Setelah dibagi-bagi dengan gateway, operator ponsel serta stasiun televisi jumlah untungnya tak bisa dibilang kecil. Purwo Handoko yang bertanggung jawab terhadap program LOVE 100 % di Global TV menyebut rata-rata angka 2 milyar dalam sebulan menjadi keuntungan stasiun televisi (Kompas, 4 Mei 2008). Mungkin sebuah stasiun televisi bisa membayar gaji karyawannya dalam sebulan, hanya dengan mengandalkan keuntungan dari acara-acara seperti ini.

KONTES IDOLA

Tidak hanya kuis dan sekumpulan layanan itu yang meraup keuntungan dari layanan SMS empat digit. Ajang-ajang pencarian bakat dan idola pun menjadi ladang keuntungan bagi stasiun televisi, promotor dan operator seluler.

Setelah sempat menghilang dari layar kaca, acara-acara seperti ini muncul lagi. Adalah format baru pencarian bakat Indosiar yang jadi pemicu kembalinya demam ini. Setelah sempat sukses dengan AFI, Indosiar memunculkan format baru dengan menggandeng sosok ibu dari setiap kontestan pencarian bakat lahirlah Mama Mia. Dengan memposisikan sosok ibu sebagai manajer dari sang calon idola, acara ini berhasil meraup keuntungan. Bahkan sampai menerobos masuk ke jajaran sepuluh besar ratting AC. Nielsen (yang banyak jadi patokan stasiun televisi).

Sudah kita pahami bersama budaya latah di stasiun televisi negeri ini. Selanjutnya muncullah berbagai acara pencarian bakat lain. Super Mama dan Super Soul Mate muncul di Indosiar, sebagai varian dari pendahulunya Mama Mia. Acara-acara lama di beberapa stasiun televisi segera dilaunching kembali. Indonesian Idol dan KDI pun muncul di RCTI dan TPI. Sebelumnya RCTI sudah punya Idola Cilik dengan segala variannya, serta Saatnya Jadi Idola. Belum lagi berbagai acara pencarian bakat lain, yang muncul di berbagai stasiun televisi. Semuanya hadir guna mengejar ratting dan keuntungan.

Pencarian bakat ini juga ditopang dengan budaya ‘sok baik hati’ stasiun televisi.Menurut hemat penulis, hampir semua acara kontes idola ini terkesan menjual kemiskinan. Jika ada sosok miskin dalam ajang ini, maka televisi dengan segala kemampuan ilusinya memolesnya. Polesan yang bertujuan untuk menarik simpati masyarakat. Simpati yang diharapkan bisa berujung dengan datangnya SMS dukungan dari pemirsa tentunya. Tak heran jika banyak dari pemenang (tiga besar) kontes-kontes seperti ini berasal dari kalangan bawah.

Penilaian dari sebuah pencarian bakat yang sejati adalah sebesar apa bakat kontestan tersebut. Bukan berdasar pada siapa dirinya apalagi jika berdasar pada SMS, yang sifatnya sangat subjektif. Tak heran jika jarang sekali artis dari pencarian bakat seperti ini yang bisa bertahan lama.

Majalah Tempo belum lama ini menghadirkan liputan tentang sosok idola yang lahir dari acara-acara pencarian bakat ini. Tak jarang mereka yang berasal dari kalangan bawah, harus kembali pada kehidupan asalnya. Bahkan ada yang harus mengutang, karena tergoda untuk ngebom (mengirim sms dalam jumlah banyak) SMS dukungan. Setelah pentas usai, memang banyak job yang mampir. Akan tetapi seperti layaknya sesuatu yang instan, hal itu takan mampu bertahan lama. Perlahan bintang pun mulai meredup, kembali ke kehidupan awal menjadi satu-satunya pilihan sambil mengubur mimpi menjadi bintang.

Penyebab utamanya adalah tak ada manajemen yang kuat dan pendampingan serius dari pihak penyelenggara acara setelah kontes-kontes tersebut berakhir. Terlihat jelas kepentingan dari stasiun televisi jika melihat kasus tersebut. Ratting yang bagus serta keuntungan melimpah tentu menjadi tujuan utama. Para peserta tak lebih sebagai alat jual belaka.

Semua acara dengan layanan SMS hanya menawarkan sebuah fantasi belaka. Tak salah jika disebut Akademi Fantasi, meminjam salah satu nama acara seperti ini. Para penonton diajarkan untuk meraih keuntungan (materil maupun psikis). Padahal semuanya adalah fantasi belaka. Jika dia berbasis pada hadiah, fantasi materil itu dibangun dengan harapan undian. Jika dia berbasis personal (paranormal, artis cantik dsb) fantasinya adalah person-person tersebut menjawab langsung sms yang masuk. Siapa yang tahu jika sebuah mesin penjawab otomatis telah disiapkan untuk menjawab sms yang masuk. Sebegitu parahnya kehidupan kita, sehingga untuk sebuah joke saja kita harus membayar Rp. 2000.

Pancarian bakat pun dibangun dengan fantasi. Fantasi menjadi bintang, terkenal serta menjadi jutawan. Walau belakangan usaha untuk menopang kerja menjadi bintang mulai banyak dilakukan, akan tetapi banyak bukti merujuk bahwa itu tetaplah sebuah fantasi. Banyak yang diajarkan berfantasi belakangan harus mengubur fantasinya tersebut.

Ini Negara dunia ke tiga, semua bisa dibangun dengan fantasi. Pasar di sini nyaman dalam logika kapitalistik, besar dan senang untuk diilusi. Akhirnya pikiran industrialis media-lah yang bermain. Keuntungan harus diraup bahkan dengan sedikit berbohong atau sedikit mengajak berfantasi. Bahkan banyak berfantasi pun tak mengapa, selama keuntungan bisa lebih maksimal.

~ by batumerah79 on June 3, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s