Sepak Bola dan Politik

Raja Juan Carlos dan Ratu Sopia, meloncat kegirangan begitu Fernando Torres mencetak gol ke gawang Jerman, di partai Final Euro 2008. Di sisi lain Angela Merkel, kanselir Jerman tidak bisa menyembunyikan kekecewaanya. Sepak bola memang olahraga rakyat jelata, membuat para pemimpin juga mau tak mau harus belajar banyak tentang hal ini.

Merkel adalah contoh pemimpin yang mulai memahami sepak bola setelah menjabat sebagai kanselir Jerman. Mendekati piala dunia, Merkel banyak dikritik karena jarang memberikan support kepada kesebelasan timnas Jerman ketika bertanding. Diapun merubah perilakunya, dengan mengusahakan untuk hadir dalam setiap pertandingan Jerman selama piala dunia berlangsung di negara tersebut.

Selanjutnya bak terjangkit virus bola, dia juga berusaha untuk selalu hadir ketika kesebelasan Jerman bertanding termasuk pada Euro kemarin. Bahkan dia sempat menasehati beberapa pemainnya. Salah satunya adalah Bastian Schewesteinger, ketika mendapatkan kartu merah melawan Kroasia. “Ia mengatakan kepada saya tidak seharusnya melakukan hal bodoh sperti itu lagi. Ketika Kanselir mengatakan anda harus melakukan sesuatu, anda wajib melakukan itu” kata pemain asal klub Bayern Munchen tersebut (Koran Tempo, 27 Juni 2008).

Lain lagi dengan Raja Juan Carlos, yang sangat berharap Spanyol menjuarai turnamen setelah tim ini mengalahkan Italia di perempat final. “Kami telah mengalahkan kutukan itu” katanya, selama ini Spanyol memang dikenal susah melewati fase gugur pada sebuah turnamen Sepakbola. Akhirnya timnya mampu keluar sebagai pemenang pada kompetisi tersebut.

Cerita-cerita di atas adalah cerita-cerita kecil seputar dunia politik dan sepakbola. Di lain sisi kita pernah melihat bagaimana seorang Silvio Berluscuni yang mampu menjadi perdana menteri Italia, dengan menggunakan Ac Milan sebagai salah satu kendaraan politiknya. Atau kisah George Weah, pemain terbaik dunia 1995 asal Liberia yang hampir menjadi presiden negaranya melalui pemilihan umum. Kedatangan Merkel untuk mendukung Jerman pun banyak dikaitkan dengan pemilihan umum yang akan berlangsung tahun depan di negara tersebut. Hal itu menunjukan kedekatan yang nyata antara pemimpin, politik dan sepak bola.

Bagaimana di Indonesia

Seperti halnya yang lain, para pemimpin dan politikus di Indonesia juga mengganggap sepak bola sebagai komoditi politik. Lihat saja diberbagai ajang pilkada, hampir semua calon menjanjikan sesuatu tentang sepak bola. Yang paling terasa ketika PILGUB DKI, Fauzi Bowo (salah satu calon) beusaha meraih simpatik dengan janji tentang tim kebanggan masyarakat Jakarta akan diperhatikan. Hal ini tentunya mencoba meraih simpatik The Jak (kelompok supporter Persija). Fauzi Bowo yang juga suksesor dari Sutiyoso, tergolong mudah untuk menarik simpatik kelompok ini. Karena Bang Yos memang memiliki pengaruh cukup di kelompok tersebut.

Contoh lain terjadi di sebuah kota kecil seperti Palu (Sulawesi Tengah), sepakbola tetap menjadi komoditi. Pilih walikota yang suka bola, begitu jargon salah satu calon di sana ketika pemilihan walikota sekitar dua tahun lalu. Di sebuah kota kecil saja begitu terasa apalagi di kota-kota besar lainnya.

Di tingkat politik nasional, sepak bola juga mengalami hal-hal yang sama. Setelah menyatakan kesediannya untuk menjadi Presiden pada pemilu mendatang, Sutiyoso juga mendeklarasikan siap memimpin PSSI. Organisasi sepakbola yang sedang mengalami masalah karena ketuanya menjadi tersangka kasus korupsi. Mungkin menurut Sutiyoso organisasi tersebut adalah mesin politik yang menjanjikan. Hal ini mengingat sepak bola sebagai olah raga rakyat, perhatian pasti banyak berkutat di sana. Sebelumnya mantan ketua PSSI Agum Gumelar, juga sempat mencalonkan diri sebagai wapres pada pilpres 2004. Bahkan Nurdin Khalid juga sering dikaitkan sebagai titipan dari GOLKAR, di dalam tubuh PSSI.

Belum lama ini juga juga hadir sebuah iklan politik, yang sarat unsur sepak bola-nya. Sutrisno Bachir, ketua umum PAN membuat berbagai iklan dengan semboyan Hidup adalah Perbuatan. Iklan-iklan ini hadir dalam berbagai versi dan sering dikaitkan dengan kepentingan 2009. Dalam versi kali ini, Sutrisno Bachir menunjukan kecintaannya pada olahraga sepak bola. Digambarkan bagaimana dirinya bermain sepak bola, begitu pula sang istri yang bermain sepak bola bersama anak-anak. Dengan diselipi-selipi kalimat-kalimat slogan, khas iklan.

Di akhir iklan dia menyebut “saya Sutrisno Bachir untuk Euro 2008”. Menyebut kalimat terakhir tanpa mengingat simbol-simbol negara ini sepanjang iklan, agaknya terlalu berlebihan. Sungguh ironi ketika iklan tersebut menggambarkan kecintaan masyarakat negeri ini terhadap sepak bola (gambar anak-anak, remaja yang bermain bola sepanjang iklan), tapi kita justru mempersembahkannya buat kejuaran di belahan bumi nan jauh. Kenapa tidak dipersembahkan kepada timnas kita ? Sambil membuat tindakan nyata terhadap persepakbolaan tanah air. Hal tersebut bakal lebih terasa langsung kepada bangsa ini.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap ajang sebesar Euro, apa perlunya politisi kita mengomentari hal tersebut ? Bahkan pada pertandingan final, Sutrisno Bachir langsung hadir di stadion guna menonton langsung. Bahkan memberi ulasan terhadap pertandingan final yang disiarkan di RCTI, TPI dan Global Tv, melalui sambungan telepon.

SBY pun tak luput dari hal ini. Sebuah cerita terkait kedatangan maestro sepak bola dunia Zinedine Zidane, adalah salah satu contohnya. SBY menyambut kedatangan Zidane begitu meriah di istana Negara. Bagi lawan politiknya hal itu menjadi suatu pertanyaan, di tengah banyaknya urusan Negara apakah penyambutan itu sebegitu pentingnya ? Bukan hanya itu hampir pada setiap pertandingan piala asia, tahun lalu SBY selalu hadir di stadion menyaksikan timnas berlaga. Tapi apadaya hal itu tak serta merta membuat timnas berprestasi. Belakangan malah prestasi timnas malah masih jauh dari baik. Beberapa hasil ujicoba tim asuhan Benny Dollo belum menunjukan hasil memuaskan.

Belajar dari politikus di Negara lain mereka tidak hanya menjadikan sepakbola sebagai komoditas politik semata, tapi juga mendongkrak keberhasilan timnya. Silvio Berluscuni mampu menjadikan AC Milan sebagai raja klub eropa ketika dia menjadi presiden klub tersebut. Merkel mampu menggelar piala dunia 2006, berikut tim Jerman juga berprestasi. Bahkan Takhsin (mantan perdana mentri Thailand dan pemilik klub Manc City) bisa membangun tim sepakbola yang tangguh. Thailand bisa bersaing di pentas Asia, terbukti lolosnya mereka ke babak kedua pra kualifikasi piala dunia 2006 zona Asia. Thailand juga menjadi raja di Asia Tenggara, serta kekuatan yang diperhitungkan di Asia.

Di Indonesia hal ini belum terlihat, timnas kita bahkan sekarang belum bisa menjadi raja di Asia tenggara, apalagi Asia. Manajemen kepengurusan sepak bola yang masih kacau (terakhir ketuanya masuk penjara, dan PSSI tetap kukuh tak mengadakan munaslub), berujung pada timnas yang masih jauh dari harapan masyarakat sepakbola Indonesia. Pertanyaan pentingnya adalah apakah ada seorang pemimpin yang benar-benar memperhatikan olah raga rakyat jelata ini ?

Pembinaan menjadi isu sentral, dalam keterpurukan timnas Indonesia. Jenjang pembinaan yang kurang jelas, begitu pula dengan manajemen pembinaanya. Masih teringat bagaimana hasil pembinaan seperti tim Primavera dan Baretti yang juga tak menghasilkan prestasi bagi Negara ini. Sebelum ada pembinaan yang baik serta kepengurusan yang profesional dalam sepakbola negri, dambaan prestasi bagi timnas masih jauh terlihat. Selama hal ini tidak diperhatikan secara serius, jangan bermimpi timnas bisa lolos ke piala dunia dan presiden kita hadir di stadion menyaksikan kala tim merah putih berjuang.

~ by batumerah79 on July 5, 2008.

One Response to “Sepak Bola dan Politik”

  1. yang membuatnya adalah ketekunana, kesempatan dan jam terbang serta vokusnya, memang dalam dunia popularitas sangat di butuhkan hidup dalam spesilisasi suatu bidang, kadang yang menjadi kegagalan bagi manusia adalah mengambang, bagi saya mengambang adalah vaktor kegagalan bagi spesialisasi fungsi kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s