Ujian Nasional dan Kejar Setoran

Tanggal : 16 May 2008
Sumber : Kompas

Prakarsa Rakyat,

Oleh MUAMMAR FIKRIE

Ujian nasional tahun ini harus dilewati dengan berbagai kecurangan, mulai dari kebocoran soal, penyebaran kunci jawaban, perbaikan hasil, dan lain-lain. Standardisasi kelulusan yang tinggi dinilai menjadi penyebab utama berbagai kasus itu.

Iklim kompetisi juga telah melahirkan nuansa prestisius bagi sekolah, rayon, kota, dan provinsi. Bagi para pemimpin di berbagai tingkatan tersebut, jumlah kelulusan tentu menjadi sebuah prestasi tersendiri. Semakin besar presentasi kelulusan, semakin tinggi prestise dan pamor mereka. Janganlah heran jika melihat sejumlah daerah mematok target kelulusan yang tinggi.

Walhasil prinsip “kejar setoran” banyak terjadi pada pelaksanaannya. Dengan prinsip itu, usaha-usaha yang sedikit nakal atau melanggar bisa menjadi lumrah tentunya. Jangan heran jika oknum guru banyak terlibat dalam berbagai kasus kecurangan pada UN. Melihat prinsip di atas, keterlibatan guru dalam kasus-kasus kecurangan pada UN tak bisa sepenuhnya disalahkan. Tingginya standardisasi, kompetensi, prestise, dan targetan tinggi adalah faktor penyebab lain.


Kelemahan utama UN pada saat ini adalah standardisasi kelulusan secara nasional (yang berbau kompetisi). Standardisasi ini bagus adanya jika terjadi pemerataan kualitas pendidikan terlebih dahulu. Ibarat sebuah kompetisi sepak bola, kompetisi akan berlangsung seru dan berimbang jika semua tim memiliki materi pemain yang seimbang pula.

Sudah kita pahami bersama pemerataan pendidikan di Indonesia sangatlah kontras. Ada sekolah yang memiliki fasilitas dan guru yang memadai. Ada sekolah yang fasilitasnya jauh dari memadai. Kesenjangan yang gampang sekali terlihat antara sekolah di kota dan sekolah di desa. Belum lagi jika melihat kondisi dari Sabang sampai Merauke. Tentu akan makin kontras terlihat ketidakmerataan fasilitas pendidikan kita.

Standardisasi ini juga menghapus proses pencarian ilmu selama sekian tahun yang dilakukan siswa karena proses itu hanya akan diujikan dalam hitungan hari. Angka kelulusan seakan menjadi sebuah tujuan akhir dari proses belajar-mengajar. Bagaimanapun caranya hasil akhirnya harus sesuai standar, prosesnya tidak diperhatikan.

Dalih diadakan UN adalah untuk menaikkan mutu pendidikan. Namun, melihat berbagai kelemahan dan berbagai kasus di seputar pelaksanaannya, kenapa tidak peningkatan mutu diarahkan pada tataran penunjang proses pendidikan. Kenapa tidak angka sebanyak itu dilakukan untuk perbaikan fasilitas sekolah, kurikulum, kualitas guru, dan lain-lain.
MUAMMAR FIKRIE

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi

Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

~ by batumerah79 on July 15, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s