Ramadhan Bulan Penuh Rejeki

Bulan tampak penuh di langit, ketika tulisan ini mulai dikerjakan. Pertanda bahwa tak terasa pertengahan bulan Ramadhan baru saja lewat. Entah berapa hari lagi keramaian di masjid-masjid, akan berganti keramaian di pusat-pusat perbelanjaan. Ramadhan memang bulan penuh rejeki, utamanya bagi mereka para pelaku bisnis.

Tengoklah para operator selular. Mereka berlomba memunculkan program-program spesial ramadhan. Ada yang menyediakan sebuah nomor sms khusus, posko-posko mudik sampai jualan handphone-Islami juga dilakoni. Bahkan iklan promosi signal kuat, dikaitkan dengan jalur mudik. Seakan mudik tanpa sim card tertentu takan lengkap. Beramai-ramai pula menyediakan layanan nada sambung lagu-lagu rohani.

Industri musik pun ketiban untung tak terkira. Beberapa artis (solo dan grup band) segera merilis album atau hits-hits rohani. Bagi mereka yang merilis album rohani, tawaran manggung tentunya datang silih berganti di bulan ini. Belum lagi jika ditambah dengan penjualan nada sambung, rejeki pun terus bersambung.

Tayangan komedi televisi diwaktu sahur dan buka, juga mendatangkan rejeki tersendiri bagi para selebritis kita. Komando Production milik Eko Patrio dikontrak dengan angka 75 juta per satu episodenya (Kompas, Minggu 14 September 2008). Para produsen sinetron pun bergerak cepat di bulan ini, hampir setiap televisi menghadirkan berbagai judul sinetron religi. Judul-judul seperti Aqso dan Madinah, Assalamu Alaikum Cinta dll menjadi penghias layar kaca. Belum lagi dihitung dengan peningkatan jumlah tayangan ceramah. Padahal tayangan islami hanya memiliki porsi waktu yang kecil di stasiun-stasiun televisi kita, pada bulan-bulan lainnya.

Semua yang berbau agama laku keras pada momentum ini. Jumlah penonton yang besar sama dengan ratting yang tinggi, ratting tinggi berarti kesempatan untuk menjual iklan lebih besar. Metro TV yang lebih banyak menyajikan acara-acara ceramah dan info seputar ramadhan saja, jumlah iklannya meningkat sampai enam belas persen (Kompas, Minggu 14 September 2008).

Belum lagi sinetron dan rangkaian acara komedi lainnya. Biasanya untuk acara seperti ini dibagi 50-50 durasi waktunya. Setengah untuk isi acaranya dan setengahnya lagi untuk iklan. Bayangkan jika acara tersebut berdurasi 120 menit pada waktu sahur. Berarti 60 menit untuk acaranya dan 60 menit lainnya buat iklan. Padahal waktu sahur adalah waktu mati pada bulan-bulan normal, tapi sekarang bisa menjadi jam prime bagi stasiun televisi. Ramadhan penuh rejeki, uang terus mengalir.

Khusus untuk iklan kebanyakan perusahaan segera maju bertarung dengan pesan-pesan terkait ramadhan. Contoh kasus jualan Handphone islami oleh para operator selular. Ramai iklan di media (baik cetak maupun elektronik) tentang handphone murah nan canggih dengan fitur islami. Bayangkan jika anda punya handphone yang di dalamnya memiliki jadwal sholat sepanjang massa atau al-Qur’an digital, bukankah itu semua akan menambah kesempurnaan ibadah anda ? Kurang lebih begitu persuasi yang dilakukan. Contoh lain adalah bank-bank islami yang sedang giat-giatnya berpromosi di bulan penuh rakhmat ini. Belum lagi jika melihat gambar ketupat berdampingan dengan label-label diskon di pusat-pusat perbelanjaan.

Semua menjadi sah di mata para pemodal, selama modal bisa berlipat ganda. Jika baik yang mereka lakukan semoga pahala terlimpa pada mereka. Penulis hanya berharap semoga sarung atau mukena kita tetap bertahan hingga Ramadhan berlalu.

Bagaimana Dengan Yang Kecil ?

Bagi rakyat kecil Ramadhan juga mendatangkan rejeki. Setiap waktu berbuka kita disuguhi oleh aneka ragam jajanan rakyat, yang dijual di pinggir jalan dan pasar kaget Ramadhan. Aneka kue tradisional, gorengan, Kolak pisang, es buah dll menjadi menu harian yang coba disajikan oleh para pedagang dadakan. Meja kayu seadanya, nampan-nampan, gelas-gelas plastik dll menunjukan modal kecil juga bisa mendatangkan rejeki kecil-kecilan. Di Jogja boulevard-boulevard kampus besar (UGM, UII dll) mendadak menjadi arena jajanan kaget tersebut.

Harga menu yang ditawarkan pun relative berdamai. Walau mungkin mereka juga harus menekan untung karena berhadapan dengan gejolak kenaikan harga-harga. Ditengah kenaikan harga-harga seperti (elpiji, minyak tanah, tepung dll) tentunya upaya mengais rejeki tidak semaksimal yang diinginkan.

Eny, salah seorang ibu penjual jajanan di boulevard UII mengaku cukup kesulitan mensiasati jualannya dengan gejolak kenaikan harga bahan-bahan pokok. “Mau gimana mas sekarang elpiji 3 Kg saja sudah tujuh belas ribuan. Minyak tanah juga susah didapat. Yah kalo untung syukur, kalo gak yah sudah senang bisa bantu mas-masnya buka puasa” lanjut Eny.

Di lain sisi kita bisa menengok tragedy pembagian zakat di pasuruan baru-baru ini. Ketika ribuan orang berduyun-duyun mendatangi pembagian zakat, yang kelak memakan korban jiwa. Tak tanggung-tanggung mereka yang meninggal berjumlah 21 orang. Bagi ribuan orang yang berdesakan tersebut angka sebesar 30 ribu rupiah (jumlah uang pemberian pada peristiwa naas tersebut) sungguh sangat berarti tentunya. Betapa kemiskinan masih merupakan fenomena menarik (juga) pada Ramadhan kali ini.

Kasus daging sampah merupakan contoh lain fenomena kemiskinan, yang mewarnai bulan Ramadhan kali ini. Tak ada yang berpikir akan mengkonsumsi daging sampah atau ayam ‘tiren’ (mati kemarin), jika tidak dalam keadaan terdesak. Himpitan ekonomi yang mendalam, membuat orang mengambil jalan pintas dalam mengais rejeki. Bangkai dan sampah pun didagangkan, bahkan juga dikonsumsi. Harga yang murah dibandingkan dengan harga komoditas normalnya, menjadi daya tarik bagi para konsumen, yang memang dituntut mengirit sebagai akibat kenaikan harga-harga.

Belum lagi iklim konsutivisme yang dipelihara dalam kepala masyarakat saat ramadhan, mau tak mau hanya akan menghasilkan keinginan-keinginan semu di kepala si miskin. Misalnya lebaran yang identik dengan baju baru. Jika sudah begitu bagaimana dengan si miskin yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah kesulitan, bisa memiliki baju baru di lebaran nanti ? Berpikir untuk itu pun mungkin mereka enggan.

Belum juga itu terjawab pertanyaan lain datang menghampiri. Apakah si miskin pernah berpikir menyimpan uangnya di bank islami, kalo untuk makan saja mungkin tak cukup ? Bagaimana mereka bisa membeli handphone islami untuk kesempurnaan ibadah, jika untuk membeli kartu perdana saja tak mampu ? …. (masih banyak tanya lagi yang muncul).

Ramadhan memang bulan penuh rejeki. Betapa indahnya jika setiap bulan adalah ramadhan. Alangkah indah lagi jika rejeki tak hanya untuk para pesohor dan pemodal, tapi juga menghampiri si miskin.

~ by batumerah79 on September 16, 2008.

One Response to “Ramadhan Bulan Penuh Rejeki”

  1. belakangan ini tulisannya kok berubah ya.
    terkesan santai, ringan, banyak bermain perumpamaan juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s