SUMPAH PEMUDA, DI NEGRI IRONI

Kolonialisme, telah menghadirkan perasaan senasib-seperjuangan. Jejeren pulau nusantara, mepertontonkan nasib yang sama. Jejeran pulau itu memperlihatkan kondisi rakyat yang tertindas, di bawah alam kolonialisme. Perjuangan melawan kolonialisme juga terjadi di mana-mana. Sadar bahwa nasib yang sama (malang, tertindas, melarat dll), sadar bahwa sedang menghadapi musuh yang sama (Kolonialisme), menjadi tolak awal persatuan gerakan perlawanan. Sumpah Pemuda menjadi salah satu picu utama dalam penyatuan gerakan perlawanan tersebut.

28 Oktober 1928, menjadi salah satu peristiwa penting dalam catatan sejarah Indonesia. 100 tahun silam ratusan pemuda yang tergerak atas perasaan senasib-seperjuangan, mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Pada masa itu pengakuan bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu (INDONESIA), bukan hanya menjadi susunan huruf sakral. Tapi sumpah itu juga dipraktekan dalam perjuangan menuju pembebasan nasional.

Sekarang di tahun 2008, tepat seratus tahun Sumpah Pemuda dideklarasikan. Perayaan banyak dilakukan dan iklan-iklan yang meminjam jargon-jargon perjuangan pemuda tahun ’28 menghiasi televisi. Dalam peringatan se-abad Sumpah Pemuda, tak layaklah kita merayakan dengan berlebihan tanpa meresapi semangat para pencetusnya. Yaitu semangat persatuan gerak untuk perjuangan pembebasan nasional. Ini yang seharusnya kita ambil sebagai pelajaran berharga, dari Sumpah Pemuda. Selanjutnya mari kita melihat kondisi bangsa dan tanah air pada hari ini.

Kemerdekaan tahun 1945, adalah buah dari perjuangan panjang pembebasan nasional. Melalui perjuangan panjang para pendahulu kita, akhirnya mampu mengusir penjajah dari bumi nusantara. Akan tetapi pembebasan nasional, itu yang sampai sekarang belum diikuti dengan pembebasan ekonomi. Bahkan sampai detik ini, kita masih melihat bagaimana penjajahan dilakukan.

Undang-undang Penanaman Modal Asing, pada tahun 1966 adalah awal mula masuknya wajah baru penjajahan asing, dengan baju korporasi global. Peluru tak lagi menjadi pilihan alat bertempur. Hutang-lah senjata baru mereka, dengan CGI, World Bank, IMF dll menjadi serdadu barunya. Hasilnya kita harus menerima konsekwensi-konsekwensinya negara ini didikte oleh pihak asing. Sehingga kita harus masuk ke dalam jurang ekonomi pasar bebas (sesuai tuntutan asing). Maka jangan heran jika melihat aset nasional dijual, subsidi ditarik dan pasar dibuka seluas mungkin. Hal itu adalah bagian dari konsekwensi dari ekonomi pasar bebas, yang kita sepakati seiring penerimaan hutang dan masuknya modal asing.

 

Hasil Pembebasan Semu

Enam perusahaan transnasional di sektor pertambangan, masing-masing Rio Tinto, Broken Hill Property Company Ltd, Newmont Mining Coorporation, Newcreast Mining Ltd, Inco Ltd (sekarang Vale Inco), dan Freeport Mc Moran Copper & Gold menguasai industri pertambangan Indonesia dalam penambangan emas, perak, tembaga, nikel, dan batubara (Sangaji, 2002). Penguasaan industri pertambangan oleh korporasi Internasional tersebut, telah menjadi bentuk langsung penguasaan asing terhadap aset strategis bangsa. Serta bukti bahwa kuasa kolonialisme wujud baru, masuk ke negri ini.

Selanjutnya, ada 52 juta buruh, serta satu juta keluarga nelayan, berikut 9 juta orang pengangguran. Mereka adalah kelompok orang yang berada dibawah garis kemiskinan, dengan pendapatan di bawa 2 dollar AS per hari (Fadjroel Rachman, ’Dua Indonesia Satu Sumpah Pemuda’, Kompas 29 Oktober 2008). Ini adalah cerminan kemiskinan yang masih melanda negri ini.

Di lain sisi, para petani sawit di Sumatera harus merugi karena turunnya harga sawit mengakibatkan mereka tak bisa menutupi ongkos produksi lahan sawit mereka. Tak adanya proteksi pemerintah, membuat para petani sawit harus berhadapan langsung dengan konsekwensi-konsekwensi pasar dunia. Sungguh kita hidup di negri ironi, ketika sawit dunia turun para petani tercekik, ketika harga minyak naik jutaan rakyat juga tercekik. Menjadi lucu ketika sekarang harga minyak dunia turun, tapi kita tetap tercekik.

Anjloknya nilai tukar rupiah juga menguatkan argumentasi tentang ketergantungan kita yang tinggi terhadap modal asing. Bagaimana tidak, ketika sebuah negri di belahan utara bola bumi mengalami krisis. Dampaknya terasa sampai ke belahan bumi bagian selatan. Spekulasi-spekulasi di lantai saham, berdampak bagi kehidupan ratusan juta rakyat kita.

Kita seakan hidup dalam alam kebebasan. Tapi tak sedikit pun udara kebebasan terasa, negri ini sesak dengan derita. Ada beragam derita disini : busung lapar, lumpur lapindo, pengangguran, phk, penggusuran dsb. Layakah ini disebut kebebasan ?

Sejatinya kondisi saat ini tak jauh banyak berbeda dengan kondisi ketika Sumpah Pemuda 100 tahun silam dicetuskan. Jejeran pulau nusantara masih menyajikan cerita pilu nan sesak. Tak ada yang beda selain alam kebebasan semu yang disajikan. Apa artinya pembebasan nasional tanpa pembebasan ekonomi.

 

Sumpah Pemuda Yang Ternoda

Kesatuan gerak untuk pembebasan nasional, yang menjadi cita-cita luhur Sumpah Pemuda semakin ternodai pada hari ini. Hal ini jelas jika meliat tabiat pemerintahan dan para elite politik. Dari hari ke hari golongan elite makin memperlihatkan tabiatnya sebagai kepanjangan tangan kuasa asing di negri ini. Mari kita tengok pemerintahan sejak reformasi, belum ada satupun yang berani tegas menyatakan daulat kita di negri sendiri. Aset nasional dijual (indosat, Krakatau steel, blok cepu, dll), subsidi ditarik dan pasar dibuka seluas mungkin.

Kalaupun ada semangat untuk memproteksi ekonomi rakyat, itu tidak pernah menyentuh akar utamanya (kuasa modal asing). BLT, PNPM dsb hanya akan mempertebal make-up, menutupi buruk rupa. Karena soal utama keterpurukan ekonomi tidak serta merta habis dan selesai dengan program bagi-bagi hadiah. Selama ketergantungan asing masih sangat tinggi, ekonomi rakyat akan terus terguncang. Subsidi yang ditarik menjadikan beaya hidup yang tinggi. Aset nasional dijual membuat kita tak maksimal memanfaatkan, aset tersebut untuk kesejahteraan rakyat. Pasar yang dibuka luas, akan mematikan potensi ekonomi mandiri rakyat karena terhantam arus modal besar dari konglomerat kaya (elite nasional dan asing).

 

Belum lagi melihat rangkaian kasus korupsi di berbagai lapangan. Mulai dari jaksa, anggota DPR, pejabat pemerintah sampai para petinggi Bank Sentral, silih berganti mengisi headline koran dengan berita korupsi. Tajuk Rencana Kompas (Semangat Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2008) menuliskan : sungguh ironi jika Indonesia yang kaya akan Sumber Daya Alam tak mampu memberi seluruh 225 juta rakyatnya makan. Penyebabnya antara lain salah kelola dan praktik korupsi yang merebak luas.

Sementara itu, para elite politik asik menjadi bintang iklan. Cahaya lighting, kamera, pose, acting serta senyuman, membuat mereka lupa berbicara soal keterpurukan ekonomi rakyat berikut solusinya. Mereka masih asik mengukur kekuatan siapa kawan dan lawan, yang bakal bertarung atau digandeng menuju pemilu 2009. Sampai terkesan lupa (atau memang sama sekali tak ingat), dengan ratusan juta rakyat yang butuh makan.

 

Untuk itu alangkah bijaknya jika kita mengembalikan Sumpah Pemuda dalam semangatnya yang sebenarnya. Bukan hanya sekedar persatuan, tapi sebuah persatuan karena merasa senasib-seperjuangan. Bukan hanya sekedar barisan huruf sakral, tapi juga barisan perlawanan menuju pembebasan nasional.

Seperti apa makna pembebasan nasional yang ingin ditujuh ? Pembebasan nasional yang sejati adalah sebuah kedaulatan penuh politik, ekonomi, sosial dan budaya. Secara politik adalah bebas intervensi asing, mampu berdiri sama tinggi tanpa ‘membungkuk’ dihadapan korporasi global. Secara ekonomi, adalah ekonomi mandiri menuju masyarakat sejahtera. Secara sosial-budaya, adalah semangat solidaritas, persatuan dan kolektif yang kokoh. Semuanya dapat tercapai setelah kedaulatan kita terhadap aset-aset nasional pulih, pembayaran hutang minimal mampu ditunda sampai rakyat sejahtera dan ada produktivitas rakyat melalui industrialisasi nasional.

Sumpah Pemuda harus mencapai tujuannya, yaitu pembebasan nasional. Jika sepakat kita belum lagi mencapainya, perjalanan harus dimulai lagi. Semangat persatuan dan pembebasan dari Sumpah Pemuda harus diresapi dan dipraktekan dalam perlawanan melawan kuasa korporasi global. Jika tidak maka tahun ke tahun kita hanya memperingati seremonial Sumpah Pemuda, tanpa pernah mencapai cita-cita para pencetusnya.

Kepada para pegiat politik gerakan rakyat, sebaiknya kita belajar dari semangat persatuan gerakan yang dicontohkan oleh para pemuda di tahun ’28. Mari kita tinggalkan corak politik fragmentasi, yang hanya akan memperlemah perlawanan.

~ by batumerah79 on October 30, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s